Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.
Marhaban bi tholibil Ilmi
Selamat Datang Wahai Penuntut Ilmu
Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Pembukaan – Kuliah Mafatihul ‘Ilm, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya bisa diakses disini.
Kajian ini adalah pembuka kuliah berseri Mafatihul ‘Ilm yaitu membahas kunci-kunci ilmu syar’i.
Mempelajari Ilmu terbagi dua: Ilmu Fard ‘Ain, dan Ilmu Fard Kifayah.
Ilmu Fardu ‘Ain, wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk mempelajarinya. Dengan ilmu ini akan dimudahkan ketika menghadapi kondisi dirinya diberbagai hal yang memang dijalani oleh setiap muslim dan muslimah. Seperti kondisi berikut:
Ketika sakaratul maut, dimana seseorang berupaya berucap la ilaha ilallah. Bagaimana bisa dia berucap kalimat tersebut tanpa mempelajari makna dari la ilaha illallah.
Di alam kubur ditanya dengan tiga pertanyaan: siapa Rabmu?, siapa Nabimu?, dan apa agamamu?. Semua orang akan menjawab sesuai dengan apa yang dia pelajari, dia yakini, dan dia amalkan. Ada yang ditanya tapi jawabannya: ha.. ha.. saya tidak tahu, saya hanya mendengar manusia berucap sesuatu, maka saya juga ikut-ikutan mengucapkannya.
Wajib mengetahui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: siapa beliau, apa kewajiban terhadap Rasulullah.
Wajib mengenal agamanya, ada kewajiabn sehari-semalam seperti shalat 5 waktu, puasa, zakat, haji.
Apabila seseorang berbisnis maka wajib untuk mempelajari hukum-hukum seputar Riba.
Hal tersebut diatas akan ditanyakan, kita harus siap dengan jawabannya. Di hari kiamat, Allah bersumpah “Demi Rabmu wahai Muhammad, sungguh kami akan bertanya kepada manusia-manusia itu semuanya. Tentang apa yang mereka kerjakan”.
Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, sehingga Allah akan mempertanyakan kewajiban ibadahnya. Sebagaimana manusia hidup didunia ini, tidak dibiarkan begitu saja tanpa ada hisab dan perhitungan. Allah berfirman “Apakah kalian menyangka kalian menciptakan kalian sia-sia dan tidak akan kembali pada kami?”
Dalam program Mafatihul ‘Ilm ini akan dikaji buku-buku yang terdapat penjelasan dari kunci-kunci ilmu yang menutupi seluruh kadar kewajiban (Fard ‘Ain) itu. Apabila ini semua telah dipelajari, maka itu tahap awal yang menutupi kewajiban tersebut.
Kurikulum Mafatihul ‘Ilm
Kurikulum kuliah Mafatihul ‘Ilm terdiri dari 26 Kitab yang mencakup: Aqidah dan Manhaj, Tafsir, Ushul Tafsir dan Tajwid, Fiqih, Ushul Fiqih, Qawaid Fiqhiyah, Maqashid Syariah, Hadits, Musthalah Hadits, Adab, dan Akhlak, Bahasa Arab dan Sirah.
Kuliah ini diawali dengan pembahasan wasiat dan adab dalam menuntut ilmu dan keutamaan islam:
Setelah itu dilanjutkan dengan 10 kitab aqidah yang diberi tema tersendiri yaitu: “Silsilah akidah yang menyelamatkan dari api neraka”. Kurikulum ini sudah dianggap baik oleh Fadhilatus Syaikh Shalih al-Fauzan hafidzahullah. Sebagai berikut:
Manfaat besar yang ingin dipetik dari kuliah Mafatihul ‘Ilm
1. Mengangkat kewajiban-kewajiban dari menuntut ilmu Fard’ ‘ain
2. Terdapat kaidah-kaidah penting yang merupakan solusi untuk segala masalah yang menimpa umat. Terdapat penyelamat dari pintu-pintu fitnah.
3. Membangun pondasi ilmiah
Ini adalah bentuk dari bagaimana seseorang itu membuat pondasi ilmiah untuk dirinya. Karena siapa yang mengambil ilmu itu dari sumber yang benar, jalan yang telah dijalani oleh para ulama, maka ia akan mapan diatas ilmu, tegar diatas jalan.
Beberapa perkataaan ulama As-Salaf:
Siapa yang mengambil ilmu dari mata air ilmu, maka dia akan stabil dan lurus, dan siapa yang mengambil dari lautan ilmu, maka dia akan goncang dan tidak tetap. Sebab kalau diliat lautan ilmu itu banyak, ngga bisa dia kumpul semuanya. Maka harus dipilih dari ilmu itu kadar yang paling bagusnya. Ambil initisarinya, ambil dari pokoknya, dasar2nya, kaidah2nya. Pondasi yang membangun dasar ilmiah didalamnya. Apabila mengambil dari segala sudut, ini bukan jalan yang benar. Walaupun ada faedah tapi tidak membentuk sebuah bagunan ilmiah pada dirinya.
Dari Ibnu Taimiyah rahimahullah: Wajib bersama manusia itu memilliki dasar-dasar yang universal (bisa mencakup seluruh pembahasan), sehingga yang cabang-cabang itu dikembalikan ke dasarnya. Supaya dia berbicara ilmu dan keadilan. Kalau tidak dia akan berada dalam kedustaan dan kejahilan. Maka lahirlah kerusakan yang besar.
Dari Zarkasih rahmiahullah, mengenai pintu penjelasan ilmu: seorang yang bijaksana apabila ingin belajar, ingin mengajar, maka dia harus mengumpulkan dua bentuk penjelasan: yang bersifat global dan yang bersifat rinci. Yang secara global adalah untuk menyemangati dalam belajar sedangkan rincian yang membuat jiwa itu tenang. Apabila memahami globalnya, maka akan memudahkan dalam mempelajari rincian secara tepat.
Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu: orang yang mengajari yang Ilmu yang kecil dahulu, sebelum ilmu yang besar.
Mengambil dari dasar-dasar ilmiah yang mengumpulkan dan menyatukan ilmu inti yang dipelajari inilah makna mengambil dari mata air ketika belajar
Seorang penyair: “Ilmu itu tidak akan didapatkan seluruhnya oleh satu orang saja, walaupun dia belajar selama 1000 tahun. Ilmu itu lautan yang sangat dalam, karena itu ambilah dari segala sesuatu yang paling indahnya dan baiknya.”
Termasuk kekeliruan seorang penuntut ilmu yang belum membangun pondasinya secara benar, belum mengambil dari kunci2 ilmu, langsung melompat ingin mengambil hal yang besar.
Sebagaian As-Salaf: “makanan orang besar itu, racun untuk anak kecil”.
Ketika belajar harus memiliki kaidah yang menyebabkan dia memiliki pondasi dan dasar.
4. Ketika sudah mengenal usul ilmu kemudian masuk kecabang-cabangnya.
Dalam belajar itu bertingkat-tingkat. Seperti kitabnya Ibnu Qodamah yang menulis 4 kitab. Dimana kitab tersebut ada tingkatannya seolah-olah: untuk tingkat SD, SMP, SMA, dan perkuliahan. Tingkatan kitab beliau adalah sebagai berikut:
Kitab pertama, berisi kumpulan kesimpulan fiqih dari satu pendapat saja,
Kitab kedua, berisi kesimpulan dari fiqih, ditambah pendapat kedua
Kitab ketiga, bersisi seluruh pendapat didalam madzhab Imam Ahmad rahimahullah.
Kitab keempat: berisi perbandingan madzah Imam Ahmad dengan imam yang lain.
5. Akan mengenal keindahaan islam
Membuat hidupnya tenang. Ketika ada fithah, dia tahu sebab terjadinya apa, kenapa seperti itu, dan dia punya solusi untuk hal tersebut. Ada pijakan ilmu yang dijadikan dasar.
Landasan Kedua: Mengenal Agama Islam dengan Dalil-Dalil
Ihsan: Tingkatan Ketiga dalam Agama Islam
Telah kita kaji tentang Islam dan rukun-rukunnya. Telah dikaji tentang iman dan rukun-rukunnya. Berikutnya yang ketiga terkait dengan ihsan. Penulis berkata, tingkatan yang ketiga adalah Ihsan.
Definisi Ihsan
Di poinkan tiga pembahasan di sini. Yang pertama, Ta’riful Ihsan. Definisi dari Ihsan di dalam syariat punya dua makna. Ada makna umum dan ada makna khusus. Makna umum ihsan adalah agama yang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus dengannya. Di atas makna umum ini bersyarikat dengannya makna umum pada Islam dan Iman.
Makna khusus dari ihsan adalah itqan terhadap hal yang batin dan yang zahir. Yang batin dan yang zahir yang disebut dengan ihsan, dia itqan terhadap segala hal yang terkait dengan batin dan zahir untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah yang disebut dengan ihsan yang didefinisikan di sini oleh penulis:
Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.
Jadi tampak dari sini bahwa Ihsan yang dibahas dalam istilah penulis di sini, ini Ihsan Terkait kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena perbuatan Ihsan itu sendiri, kalau kembali kepada dasarnya, Ihsan artinya itqan. Dia mengerjakannya secara sempurna, secara tepat, lengkap, betul-betul mapan, itu disebut ihsan. Terkait dengan makhluk maupun terkait dengan al-khaliq, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan makhluk.
Karena itu ada sebagian hadits dibahasakan: ihsan berbuat baik kepada manusia.
Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalau engkau tidak bisa seakan-akan melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu. Allah melihatmu.
Rukun Ihsan
Pembahasan yang kedua, Rukun Ihsan. Rukun Ihsan cuma satu, yaitu: Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalau tidak bisa, maka ketahui lah bahwa Allah Melihatmu.
Di satu rukun, ada dua maqam. Namanya ada dua jenjang, dua kedudukan pada ihsan. Jenjang yang paling tingginya namanya maqamul musyahada. Jenjang seakan-akan dia menyaksikan, melihat. Dan jenjang yang kedua di bawahnya namanya maqamul muraqaba. Jenjang muraqaba, merasa diawasi. Jadi ada dua, ada maqam al-musyahadah dan ada maqam Al-muraqabah. Kau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.
Jadi ihsan ini kalau dilihat memang pada akar bahasanya, ihsan artikan dia mempercantik, memperindah. Jadi pada puncak keindahan itu disebut ihsan. Dimana dia melakukan pekerjaan itu di atas bentuk yang paling bagusnya, cara dhahir dan batin.
Karena itu kata Ibn Dakiq ilid rahimahullah, ihsan itu kesimpulannya rajina ila itqanil ibadat. Ihsan kesimpulannya kembali kepada menitqan seluruh ibadah. Dia itqan seluruh ibadah. Dia buat ibadah itu lengkap, sempurna, paling baiknya, di atas puncak penjagaan dan kelengkapan. Jadi dia kembali kepada itqan Al-ibadah, dia itqankan seluruh ibadah. Ihsan itu kembali kepada dia menjaga seluruh hak-hak Allah dan selalu memperhatikannya. Demikian pula dia hadirkan keagungan dan kebesaran Allah saat dia beribadah. Dia hadirkan keagungan dan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala saat Dia beribadah.
Tingkatan dan Cakupan Ihsan
Jadi ihsan ini kalau dilihat dari sisi tingkatan agama, ada Islam, iman dan ihsan, maka ihsan dia adalah yang paling tingginya dan paling luasnya dari sisi keumuman ihsan ini. Karena ihsan dia tidak terkait dengan amalan zahir saja, tidak terkait dengan amalan batin saja, tapi dia terkait dengan amalan Zahir dan amalan Batin semuanya. Dan dikerjakan dalam bentuk itqan, yang paling bagus dan paling lengkapnya. Jadi yang paling tinggi dan paling mencakup semuanya.
Hanya saja dari sisi pemiliknya, yang ihsan ini derajat yang tinggi. Sebab orang yang berada di derajat ihsan, dia muhsin. Apabila dia muhsin, pasti dia mu’min dan muslim. Tapi orang yang mu’min belum tentu masuk ke ihsan. Orang yang muslim dia belum tentu masuk ke mu’min dan ke muhsin.
Jadi ini penggunaan-penggunaan dan penjelasan terkait dengan masalah ihsan. Sekali lagi ihsan itu di sini disebut oleh penulis satu rukun. Jadi ada dua jenjang, yaitu Al-Mushahada dan Al-Muraqabah. Jenjang, Mushahada: Anta’budallaha ka’annaaka tarahu. Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Ini Mushahada, seakan-akan dia melihat Allah. Karena kuatnya dari ilmunya, kuatnya dari keimanannya, bagusnya dari pengamalannya, seakan-akan dia melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini jenjang yang paling tingginya.
Kalau tidak bisa sampai seperti itu, maka ada jenjang di bawahnya, yaitu Muraqabh. Kalau engkau tidak bisa seperti itu, maka ketahuilah Allah melihatmu. Dia merasa diawasi, dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka ini dua jenjang penghambaan di dalam ihsan ini.
Maqamul Musyahada: Seakan-akan Melihat Allah
Menunjukkan akan tingginya derajat ihsan tersebut. Jadi anta’budallah ka’annaaka tarahu. Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau Melihat-Nya. Bukan melihat benaran, tapi seakan-akan engkau melihat-Nya. Seorang kadang dalam kehidupan dunia, kalau dia sangat cinta pada sesuatu, merindukannya dan sangat ingat sesuatu itu, kadang dia hadirkan sesuatu itu, seakan-akan sesuatu itu di depannya, masih bersamanya. Ini karena dia pikirannya itu saja, hatinya kesitu saja, dan dia sangat menguasainya, maka itu bisa seperti itu.
Seorang sampai kejenjang Musyahada, Kalau dia betul-betul Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah di sini jenjang ilmu namanya. Jenjang yang paling tinggi. Sebab ini tingkatannya orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang bagus di dalam mengamalkan dari ilmunya. Maka dia beribadah itu seakan-akan dia melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ini disebut dengan nama Musyahadah. Jadi jenjang musyahadah seperti itu. Ini ada pembahasannya, kita akan kaji lagi nanti Insya Allah dijenjang Amalan hati, ada sudut pembahasan di sana.
Jadi kalau ada yang mengatakan dia beribadah, betul-betul dia lihat, atau dia lihat dengan mata kepala, maka itu dusta. Karena di dunia ini tidak ada yang bisa melihat Allah dengan mata kepalanya dalam keadaan terjaga. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah menyatakan dalam hadits Jabir bin Abdillah riwayat Muslim: “ketahuilah bahwa kalian tidak akan bisa melihat Rob kalian sampai kalian meninggal, sampai kalian mati.”
Jadi dalam kehidupan dunia ini tidak mungkin ada yang bisa Melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan sebagian ulama telah menukil kesepakatan bahwa siapa yang mengaku dirinya Melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia, maka ini hukumnya Kafir, keluar dari Islam. Karena itu bertentangan dengan ayat Al-Quran dan bertentangan dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jadi yang ada itu seakan-akan dia melihat Allah, karena kuatnya, keilmuannya, kuatnya, keimanannya, dan bagusnya dia di dalam mengamalkan Islam dan iman, dan berada di atas jenjang ihsan.
Maqamul Muraqabah: Merasa Diawasi Allah
Tingkatan yang kedua adalah tingkatan muraqabah. Jadi kalau dia tidak bisa seakan-akan melihat Allah, maka dia merasa diawasi. Dia tahu bahwa Allah melihat segala gerak-geriknya, mengetahui apa yang dia kerjakan, menyaksikan apa yang dia lakukan. Nah, ini disebut muroqabah.
Jadi disimpulkan di sini terkait dengan masalah Islam, iman dan Ihsan. Jadi tiga tingkatan agama ini, ini kadang bertemu, berkumpul semuanya. Islam, iman, ihsan. Kadang bertemu semuanya pada makna umum. Karena itu kadang Islam digunakan bermakna iman, digunakan bermakna ihsan. Tapi Islam itu dia bersendirian penggunaannya pada amalan yang dahir. Sama dengan iman juga. Iman kadang mengumpulkan makna Islam dan mengumpulkan makna ihsan. Tapi iman kalau bersendirian itu digunakan untuk makna amalan yang batin. Ihsan juga begitu. Ihsan kadang mengumpulkan mana Islam dan iman. Tapi Ihsan kalau digunakan bersendirian ini maknanya Itqan terhadap amalan yang batin dan yang zahir.
Kadar Minimal Ihsan
Kadar yang paling minimalnya pada Ihsan itu kembali kepada dua hal. Kadar yang paling minimalnya. Kita berbicara tentang mengenal agama Islam. Agama Islam ada tiga tingkatan di dalamnya. Ada Islam, ada iman dan ada ihsan. Kita sudah kenal kadar minimal pada Islam, kadar minimal pada iman. Sekarang pada ihsan itu kadar minimalnya pada dua hal.
Yang pertama, Dia ihsan kepada Allah dalam hukum Allah Al-Qadari. Dia ihsan kepada Allah dalam hukum yang bersifat penakdiran. Bahasa lainnya, bersabar terhadap takdir Allah. Bahasa lainnya, bersabar terhadap takdir dan Ketentuan Allah.
Yang kedua, Ihsan bersama Allah dalam hukum syar’i. Dalam hukum syar’i, bahasa lainnya menjalankan perintah, meninggalkan larangan. Menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Ini kadar yang minimal pada ihsan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia ihsan dalam hukum Allah al-Qadari dan ihsan dalam hukum Allah al-Syar’i. Sabar dalam menerima ketentuan Allah dan Melaksanakan segala yang diperintah, Meninggalkan segala Yang dilarang.
Tafsir Ayat tentang Ihsan
Pembahasan yang ketiga, Tafsir tiga ayat tentang ihsan. Penulis menyebutkan tentang ihsan ada tiga ayat. Ayat yang pertama di surah An-Nahl. Kata beliau, Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (An-Nahl: 128)
Sungguhnya Allah Bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan. Dikatakan di sini, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa, di sini ma’iya, kebersamaan Allah. Ini ma’iya namanya, kata para ulama, ma’iya khasah, kebersamaan khusus. Yang bermakna Allah menolongnya, Menguatkannya. Sungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa. Jadi disebutkan ihsan itu bersama Orang-orang yang bertakwa. Dimaklumi ketakwaan itu kadarnya sampai Menjalankan apa yang diperintah, meninggalkan Apa yang dilarang. Karena itu tadi di katakan kadar paling minimalnya pada ihsan adalah ini. Ini namanya ihsan kepada Allah dalam hukum syar’i. Jadi sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa Dan orang-orang yang ihsan dalam beribadah kepadanya.
Jadi ma’ia di sini, Kebersamaan Allah Bersama orang yang bertakwa maksudnya Membantu dan menolong mereka. Demikian ditafsirkan oleh Al-Bagawi Rahimahullahu ta’ala.
Dalil yang kedua Tentang ihsan. Dan firman Allah ta’ala:
Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ash-Shu’ara: 217-220)
Dan bertawakkallah Engkau kepada Allah Yang maha perkasa Lagi maha penyayang. Disebutkan dua nama Dari asmaul husna, Nama al-aziz Dan nama Ar-Rahim. Jadi tawakkallah, Tawakkal pada segala perkara. Al-Aziz Ar-Rahim. Kenapa diperintah tawakkal kepada Allah? Karena Allah yang menguatkanmu Dan menjagamu. Dan disebutkan dua namanya, Al-Aziz, Al-Rahim, Yang Maha Perkasa lagi Maha Merahmati. Ini Penyebutan bahwa kalau engkau bertawakkal, Allah Maha Perkasa, Allah akan menjagamu. Allah Maha Rahim, Rahmat Allah, kalau meliputimu Maka akan mencukupi engkau Pada segala sesuatu. Karena itu diantara manfaat orang yang bertawakkal, Kecukupan Allah berikan Untuknya. Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah Maka Allah yang akan Mencukupinya.
Jadi ini bentuk tawakkal ya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. At-tawakal itu dari makna isti’ana, memohon pertolongan. Dia sandarkan perkara yang kepada Allah, dia mohon pertolongan kepada Allah. Ini derajat ihsan namanya. Dia hadirkan kedekatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Artinya dia sudah berada di derajat ihsan. Karena itu di ayat setelahnya dikatakan, Yang melihat engkau ketika engkau berdiri. Berdiri solat kepada Allah, Allah melihatmu. Ini penyandaran ke derajat ihsan. Sekan-akan Allah melihat engkau. Dan juga Allah melihat perubahan gerak badanmu. Diantara orang-orang yang sujud, Kelihatan Bagaimana engkau ketika ruku, sujud, duduk. Dan disebutkan di sini, Pembahasan sujud saya bersama orang yang sujud, padahal sholat bukan cuma sujud. Karena besarnya kedudukan sujud ini.
Kemudian di ayat setelahnya dikatakan, dia lah Allah yang maha mendengar lagi maha mengetahui. Ini semuanya terkait dengan jenjang Ihsan. Tampak di sini, merasa diawasi oleh Allah, dilihat.
Dalil yang ketiga, kata penulis rahimahullah ta’ala:
Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur`ān dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. (Yunus: 61)
Tidaklah kalian berada dalam Sebuah perkara, Dalam sebuah Perkara atau sebuah keadaan. Dan tidaklah kalian membaca Suatu ayat dari Al-Quran. Dan tidaklah kalian Beramal Dengan suatu amalan apapun, kecuali kami menjadi saksi atas kalian di waktu kalian melakukan amalan-amalan itu tadi.
Ketika kalian masuk dalam amalan itu, sudah larut di dalamnya, tenggelam padanya, maka kami menyaksikannya. Kami mengetahui, melihat apa yang engkau kerjakan. Maka ini derajat ihsan, dia merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan selalu merasa dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jadi ini tiga dalil dari penulis rahimahullah menjelaskan tentang derajat ihsan. Dan ini derajat yang agung. Ihsan itu jenjang ibadah ada dua di dalamnya, ada musyahadah dan Muroqabah. Dan ini ada sebab-sebabnya seorang itu sampai ke sana. Saya sudah terangkan kadar minimalnya pada ihsan. Maka dengan ini selesai sudah apa yang wajib diketahui terkait dengan agama ini. Ini landasan yang kedua: Mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya.
Jadi kalau ditanya oleh malaikat madinuka, apa agamamu? Ini terkait dengan tiga tingkatan ini. Islam, iman, dan ihsan. Seorang mu’min yang akan lancar di dalam menjawabnya itu sepanjang pengamalan dia terhadap tiga hal ini. Kita sudah terangkan kadar yang paling minimal.
Ada pun yang diatasnya, disitulah manusia berjenjang, bertingkat-tingkat. Dalam tingkatan keislaman, keimanan dan Ihsan. Dan seseorang apabila dia pelajari dari agama, dia mengerti apa yang harusnya dia kerjakan. Apa yang harusnya dia lakukan. Kalau dia sudah mendalami dan mengilmui, maka akan mudah perkara-perkara itu. Sisa kewajibannya adalah bagaimana dia beramal dengan sebaik-baik amalan. Beramal dengan sebaik-baik perkara yang menyambungnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Wallahu Ta’ala ‘Alam
Referensi:
Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah
Landasan Kedua: Mengenal Agama Islam dengan Dalil-Dalil
Keimanan kepada Kitab-Kitab Allah
1. Keyakinan bahwa Seluruh Kitab Turun dari Allah Subhanahu wa Ta’ala
Kita imani bahwa seluruh kitab-kitab ini turunnya dari sisi Allah Azza wa Jalla. Turun dengan sebenar-benar turun. Turun itu dengan sebenar-benar turun Itu keyakinan Ahli sunnah Kita imani Sebagaimana yang diberitakan Karena Allah subhanahu wa ta’ala Membahasakannya dengan bahasa Menurunkan.
2. Mengimani Nama-Nama Kitab Secara Khusus dan Global
Dari kitab-kitab Apa yang disebutkan namanya apa yang disebutkan namanyadari kitab-kitab kita imani secara terperinci secara khusus apa yang tidak disebut namanya maka kita imani secara global yang disebut itu dalam Al-Quran ada enam yang disebut Al-Quran, Taurat, Injil, Zabur, Suhuf Ibrahim Lembaran-lembaran Nabi Ibrahim Dan Suhuf Musa Lembaran-lembaran Nabi Musa. Suhuf Musa ini kalau dia Taurat berarti 5 Kalau dia lembaran lagi sendiri Berarti 6, kita tidak tahu Hakikatnya bagaimana Kita beriman secara global. Tapi kita umat Islam Ada kewajiban khusus beriman terhadap Al-Quranul Karim Inilah kitab yang diturunkan Kepada kita umat Islam Dan Al-Quran ini adalah Penutup Yang telah muhaiminan Yang telah menghapus kitab-kitab sebelumnya Isi dari kitab-kitab sebelumnya ada di dalam Al-Quran.
3. Membenarkan Berita yang Sah dari Kitab-Kitab
Ketiga dari kewajiban terhadap kitab-kitab adalah membenarkan segala hal yang syah dari berita di dalam kitab-kitab itu. Kalau Al-Quran itu dipastikan. Tapi selain dari Al-Quran ini sudah banyak yang berubah dari kitab-kitab yang dipegang oleh Ahlul Kitab. Ada pun Al-Quranul Karim Al-Quranul Karim tetap terjaga Tak mungkin ada dari Al-Quran Yang bisa dirubah Karena Allah telah berfirman:
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur`ān dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (QS. Al-Hijr: 9)
Kami menurunkan Al-Quran dan kami akan Menjaganya. Maka Al-Quran ini Dimasukkan Satu huruf pun Maka akan ketahuan Ada yang dimasukkan bahkan di dalam pembahasan harokatnya panjang pendeknya itu ada riwayat-riwayatnya ada riwayat-riwayatnya kapan dibaca 4 harokat, kapan dibaca 2 harokat, kalau dibacaan kita misalnya, Hafs dari Atsim, itu ada 2 riwayat ada dari jalan Syatibia dan ada dari jalan Tayyibatun Nasr ada dari jalan tayyibatun nasyur perbedaan yang paling menyoloknya kalau dari jalan syatibia matmumfasilnya biasanya empat harokat, kalau tayyibatun nasyur dibaca dua saja, itu perbedaan menyolok di seluruh Al-Quran dari awal hingga akhirnya. Ini perbedaan dari sisi riwayat. Jadi ini kedetailan dalam Al-Quran sangat terjaga sekali. Ada pun selain daripada Al-Quran, kalau ada yang misalnya sahih berita dari kitab-kitab itu, maka kita wajib untuk Mengimaninya. Tapi yang menjadi masalah, mana yang benar Karena tidak ada yang dijaga seperti Penjagaan terhadap Al-Quran.
4. Beramal dengan Hukum yang Belum Di-Naskh
Keempat Kita dari kewajiban terhadap kitab-kitab Kita beramal Dengan hukum-hukum yang terkandung Di dalam kitab-kitab itu Dan ridha terhadapnya Sepanjang hukumnya belum dihapus. Dengan turunnya Al-Quran terhapus semua kitab sebelumnya. Jadi apa yang ditetapkan dalam Al-Quran itulah yang diamalkan.
Manfaat Keimanan kepada Kitab-Kitab
Ini memberikan berbagai pelajaran. Memberikan berbagai manfaat. Manfaat yang pertama supaya seorang mengenal bagaimana rahmat Allah kepada umat. Di mana umat itu diterunkan kepada mereka kitab untuk memberi hidayah kepada mereka. Sebagai pedoman dan hidayah mereka. Ini rahmat Allah SWT.
Dan yang kedua adalah dengannya seorang mengenal dari hikmah Allah SWT di dalam syariatnya. Di mana setiap umat diberi kitab apa yang mencocoki keadaan mereka apa yang mencocoki keadaan mereka, karena itu setiap umat ada kitabnya masing-masing sesuai dengan keadaan mereka ada di syariat Nabi Musa misalnya cocok untuk mereka itu tidak cocok untuk umat Islam tapi umat Islam ini dimudahkan Untuk mereka kemudahan-kemudahan Dan Lebih banyak pemberian dan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala untuk mereka.
Keimanan terhadap Para Rasul
Keimanan terhadap para rasul, wa rusulihi. Keimanan kepada rasul-rasul-Nya. Ar-rusul jamak dari Rasul. Rasul itu adalah siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala utus dari manusia dengan syariat. Rasul ini sama dengan Nabi. Keduanya bersyarikat dalam hal diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya saja perbedaannya, kalau Rasul itu diutus kepada umat, biasanya menyelisihi mereka. Kalau Nabi itu diutus kepada umat yang sudah bersepakat dengan mereka.
Karena itu kalau kita lihat Rasul, Nabi Nuh ‘Alaihissalam diutus kepada umat. Umatnya tidak di atas akidah Nabi Nuh. Karena itu didakwai. Demikian pula Nabi Ibrahim, berbeda dengan kaumnya. Demikian pula Nabi Musa dan Nabi Harun, berbeda dengan Fir’aun. Demikian pula Nabi Isa. Demikian pula Nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ini contoh para rasul.
Kalau Nabi itu diutus kepada kaum yang bersepakat dengannya. Karena itu Bani Israel itu para Nabi yang banyak. Tapi setelah Nabi Musa dan Nabi Harun, Nabi-Nabi yang datang setelahnya itu disebut Nabi, tidak disebut Rasul. Karena itu dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dikatakan, adalah Bani Israel itu mereka disiasati oleh para Nabi-Nya. Maksudnya siasat dalam bahasa Arab, bahasa cocoknya Diatur dan dijaga kebaikannya oleh para Nabi-Nya. Karena kata siasat dalam bahasa Arab itu adalah pengaturan terhadap umat, apa yang dengannya mereka menjadi baik. Bukan siasat dalam bahasa Indonesia, siasat politik yang ada bermakna kibul-kibulan, sikut-menyikut, tendang-menendang, bukan itu yang dimaksud.
Tapi as-siasat kalau dalam bahasa Arab itu adalah al-qiyamu bishay li-islahihi wahibdihi, yang menegakkan sesuatu untuk memperbaikinya dan menjaganya. Itu siasat namanya. Jadi para Nabi ini, Bani Israel ini dijaga oleh para Nabi-Nya. Dirawat oleh para Nabi-Nya. Setiap kali ada Nabi yang meninggal, datang lagi Nabi setelahnya. Itu Bani Israel.
Jadi itu perbedaan antara Nabi dan Rasul, itu perbedaan yang paling pokoknya. Adapun definisi yang masyur, kita dari kecil pelajar definisi, kalau Nabi itu diberikan padanya wahyu tidak diperintah menyampaikan. Kalau Rasul diberi wahyu, diperintah untuk Menyampaikan. Ini definisi paling banyak kritikannya. Masa ada Nabi diberi wahyu tidak menyampaikan. Nabi Khidir disebut Nabi, tapi dia ada bentuk penyampaian. Karena kata Nabi dan Rasul itu bersyirikat dalam makna sama-sama diutus. Diutus itu artinya menyampaikan. Jadi Rasul dan Nabi bersyirikat dalam kata Sama-sama diutus.
Keimanan kepada para Nabi dan para Rasul ini mengandung empat perkara.
1. Mengimani Kebenaran Risalah Mereka
Yang pertama, keimanan bahwa risalah mereka, kerasulan mereka itu adalah hak, benar datangnya dari Allah. Jadi wajib diimani. Bahwa mereka adalah Rasul hak benar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ini sama semuanya para Nabi dan para Rasul seperti itu. Semua Nabi dan Rasul diimani sama. Sebab semuanya datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Diutus dari sisi Allah. Siapa yang kafir terhadap kerasulan seorang Rasul, artinya dia kafir kepada seluruh Nabi dan Rasul. Itu kaedah. Siapa yang kafir terhadap satu Rasul, maka artinya dia kafir terhadap seluruh Nabi dan Rasul.
Karena itu dikatakan كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ ٱلْمُرْسَلِينَ, kaumnya Nabi Nuh telah mendustakan para Rasul. Padahal kaumnya Nabi Nuh yang diutus ke mereka Satu saja, Nabi Nuh. Tapi karena dia dustakan satu Nabi, maka hukum Al-Quran dikatakan mereka mendustakan para Rasul. Ini hati-hati ya. Kemarin sebagian orang jahil dari kaum muslimin ketika ada ribut-ribut karikatur itu, di Denmark, ketika bikin karikatur terhadap Nabi, ada yang balas bikin karikatur terhadap Nabi Isa ‘Alaihissalam. Jadi dia balas kekafiran dengan Kekafiran. Memang yang membuat karikatur Nabi sudah kafir. Ini mengaku dirinya muslim, bikin karikatur terhadap Nabi Isa, itu juga hukumnya kafir, sama. Karena itu hati-hati jangan terjerumus di dalam kejahilan-kejahilan.
2. Mengimani Nama-Nama yang Diketahui
Yang kedua, dari keimanan kepada para Rasul, dari kandungan keimanan kepada para Rasul, kita imani siapa yang diketahui namanya Para Nabi itu ada yang disebut namanya dalam Al-Quran. Disebutkan nama para Nabi dalam Al-Quran ada 25 orang Nabi. Selain Nabi Adam, itu bisa dilihat namanya ada di Surah An-Nisa, ada di Surah Al-An’am. Ini dua surah yang paling mengumpulkan nama para Nabi. Selain daripada itu ada surah-surah yang menyebutkan nama-nama Nabi yang lainnya. Ada di Surah Al-Anbiya, ada di Surah Asy-Syu’ara, ada di Surah As-Saf. Ini semuanya dari tempat-tempat kita melihat penamaan para Nabi dan para Rasul.
Tapi dari para Nabi itu dan para Rasul dalam Al-Quran disebut 25. Di luar Al-Quran ada yang disebut namanya dari Nabi. Misalnya Yusha bin Nun. Ini kan disebut namanya. Itu anak muda yang menemani Nabi Musa itu. Setelah Nabi Musa dan Nabi Harun, anak muda ini menjadi Nabi. Itu namanya Yusha bin Nun. Dan jumlahnya para Rasul itu mereka bukan hanya 25. Lebih daripada 25. Sebagaimana para Nabi, jumlah Nabi itu lebih banyak lagi.
Jadi kalau diketahui namanya, kita imani dari namanya. Yang tidak diketahui maka kita imani secara global.
Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. (QS. Ghafir: 78)
Diantara mereka ada yang sudah kami kisahkan dan diantara mereka ada yang belum dikisahkan. Ada yang belum dikisahkan. Jadi ada yang dikisahkan, ada yang tidak dikisahkan. Menunjukkan banyak para Nabi dan para Rasul itu.
3. Mengimani Berita yang Sahih
Kemudian yang ketiga dari keimanan kepada para Rasul adalah kita imani segala berita yang syah, yang sahih, yang benar dari berita para Nabi tanpa Rasul. Jadi kalau syah hal tersebut di dalam Al-Quran atau di dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka kita terima.
Ada namanya kisah Isra’iliyyah. Kisah Isra’iliyyah ini penyebutan kisah umat terdahulu terkait dengan umat terdahulu. Kalau tidak ada beritanya di dalam Al-Quran dan Hadits, maka hukumnya tidak dibenarkan, tidak pula didustakan. Tidak dibenarkan, tidak pula didustakan. Tapi boleh diceritakan sepanjang tidak ada makna yang bertentangan dengan Al-Quran di dalamnya.
Tapi kalau ada makna yang bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits, apalagi makna tersebut adalah celahan terhadap para Nabi dan para Rasul, maka itu tidak boleh diceritakan. Seperti Naudzubillah, ada yang cerita katanya Nabi Daud tertarik dengan istri salah seorang prajuritnya. Prajuritnya disuruh perang, diletakkan dia di pasukan paling depan supaya cepat mati, kemudian setelah itu dinikahi istrinya oleh Nabi Daud. Ini Naudzubillah. Ini dari semenjak masa Umar bin Abdul Aziz berkata, beliau berkata: “Siapa yang saya dengar bercerita tentang isu, saya akan cambuk dia haddal muftari.” Hukum had terhadap orang yang bikin kesaksian palsu. Jadi kalau orang bikin kesaksian palsu dicambuk 80 kali. Jadi kalau orang mu’min saya bikin saksi palsu terhadap mu’min lainnya, dicambuk 80 kali. Apalagi ini terhadap seorang Nabi.
Nah ini berarti banyak yang mau dicambuk-cambuk di atas mimbar Jumat. Sering bawa cerita-cerita sembarangan. Hal-hal yang seperti ini dari perkara yang tidak diperbolehkan.
4. Beramal dengan Syariat Rasul
Kemudian yang keempat dari keimanan kepada para Nabi atau para Rasul, kita beramal dengan syariat Rasul yang diutus kepada kita. Yang diutus kepada kita adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan beliau adalah penutup para Nabi dan para Rasul. Wajib kita imani bahwa beliau adalah penutup para Nabi dan para Rasul.
Tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. (QS. AL-Ahzab: 40)
Wa rasul Allahi wa khataman nabiyyin. Tapi beliau adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi.
Ditegaskan di dalam hadits yang mutawatir: La nabiya ba’di, tidak ada Nabi lagi setelahku. Ini penegasan yang secara tegas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Nabi yang terakhir.
Keimanan terhadap para Rasul ini punya berbagai manfaat, diantaranya adalah kita mengenal rahmat Allah dan kasih sayangNya terhadap segala makhluk, dimana diutus kepada mereka para Rasul untuk memberi hidayah menuju kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan diutusnya para Nabi dan para Rasul untuk mengangkat hujah terhadap mereka, supaya mereka tidak beralasan lagi pada hari kiamat: “Kami begini karena belum sampai Rasul.” Tidak, diputus hujah itu sudah diangkat.
Dan juga dari keimanan kepada para Rasul ini ada kesyukuran kepada Allah akan nikmat ini, apalagi diutus kepada kita umat Islam ini seorang Rasul yang merupakan pemuka, pemimpin para Nabi dan para Rasul, yaitu Nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Dan dari keimanan kepada para Rasul juga adalah cinta kepada mereka. Bagaimana seorang mengenal para Rasul itu mencintainya, menghormatinya, memujinya. Karena seorang itu dikumpulkan bersama siapa yang dia cintai.
Keimanan terhadap Hari Akhirat
Kemudian yang kelima adalah keimanan terhadap hari akhirat. Keimanan terhadap hari akhirat ini mencakup banyak hal. Karena hari akhirat itu bermula dari alam kubur. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Al-qabru awal manazilil akhirat. Kuburan itu adalah awal persinggahan negeri akhirat. Jadi masuk dalam keimanan kepada hari akhirat adalah alam kubur. Jadi apa yang ada dalam kubur itu, dari fitnah, adzab itu kita imani, kita yakini. Sebagaimana hari kebangkitan, kita imani akan hari kebangkitan itu bagian dari keimanan kepada hari akhirat. Dan ini yang diingkari oleh kaum musyrikin.
Demikian pula dari keimanan kepada hari akhirat, keimanan akan hisab dan jaza. Hisab dan pembalasan. Demikian pula masuk di dalam keimanan kepada hari akhirat, keimanan terhadap surga dan neraka. Jadi kalau diurut itu, keimanan kepada hari akhirat semenjak ruh keluar dari jasad, itu masuk sudah di pembahasan alam barzah, alam kubur. Setelah itu hari kebangkitan. Setelah hari kebangkitan, dikumpulkan di padang mahsyar.
Padang mahsyar itu adalah bumi yang telah diganti, langit yang sudah diganti.
(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain, dan (demikian pula) langit (QS. Ibrahim: 48)
Hari tatkala bumi diganti dengan bumi selain dari bumi yang ada, demikian pula langit diganti selain dari langit yang ada sekarang ini. Karena pada mahsyar, sebab hamparan, berkumpul di situ seluruh makhluk dari awal hingga akhirnya dalam keadaan telanjang, tidak beralas kaki, belum dikhitan, matahari dekatkan di atas kepala. Manusia berkeringat sesuai dengan apa kadar amalannya. Ada yang dinaungi di bawah teduhan Arsy Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada yang berkeringat sampai ke mata kakinya. Ada yang ke lututnya. Ke pinggangnya. Ada yang ke lehernya. Ada yang ditenggelamkan oleh keringatnya.
Di padang mahsyar ini, di situ ada telaga. Setiap Nabi dan Rasul punya telaga. Dan Nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga memiliki telaga. Di telaga Nabi Muhammad inilah, siapa yang minum darinya satu kali tegukan, dia tidak akan haus selama lamanya. Di telaga Nabi Muhammad inilah umatnya berkumpul. Ada pembahasan tentang telaga.
Dan di situ juga di padang mahsyar, pembahasan tentang syafaatul udhma. Karena manusia di penantian yang sangat lama itu. Satu hari di hari kiamat itu, dalam Al-Quran ada yang disebut seperti seribu tahun, ada yang disebut seperti 50 ribu tahun. Penantian yang sangat lama. Dalam keadaan yang dahsyat, Allah murka. Dengan kemurkaan yang sangat besar. Tidak pernah murkah semisal itu sebelumnya dan tidak akan murka semisal itu setelahnya. Para Nabi hanya berkata: Nafsi-nafsi. Diriku-diriku. Memikirkan dirinya.
Manusia mendatangi para Nabi dan para Rasul, supaya para Rasul memohon kepada Allah agar hisab disegerakan. Dan semuanya hanya memikirkan dirinya, memikirkan dosanya, kesalahannya. Dan akhirnya manusia kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau pun yang berdiri dan memohon kepada Allah. Beliau berkata: “Akulah yang memang pemilik syafaat itu.” Akulah pemilik syafaat itu. Maka berdirilah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kemudian beliau bersujud di bawah Arsy, memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pujian yang dibukakan untuk beliau waktu itu. Mengalir di lisan beliau, beliau memuji Allah dengan pujian yang sangat agung. Kemudian Allah perintahkan kepada Nabi Muhammad untuk mengangkat kepalanya, berucap memohon dan memberi syafaat. Dizinkan oleh untuk Nabi Muhammad. Maka Nabi pun memohon kepada Allah agar supaya hisab disegerakan. Dikabulkan permohonan Nabi Muhammad.
dan datanglah Tuhan-mu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. (QS. Al-Fajr 22-23)
Datanglah Rabb mu dan para malaikat bersaf-saf. Ini hisab. Didatangkan neraka Jahannam dalam keadaan ditarik dengan 70 ribu. Setiap tali ditarik oleh 70 ribu malaikat. Ada namanya Aradh. Ada namanya hisab. Aradh itu ditunjukkan dari amalan-amalan. Dihisab, diperhitungkan. Dipertanyakan setiap dari amalannya. Ada namanya timbangan. Ditimbang antara kebaikan dan keburukannya.
Setelah ditentukan, setelah semua ini, penentuan dia ke surga atau Ke neraka. Yang penduduk neraka dilemparkan, diseret ke neraka. Yang penduduk surga masih ada fase berikutnya. Melewati jembatan di atas neraka Jahannam. Penduduk neraka juga melewatinya tapi dia pasti jatuh di bawah neraka. Sebab ini jembatan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah bersumpah seluruh dari makhluk akan mendatanginya.
Dan tidak ada seorang pun darimu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhan-mu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. (QS. Maryam: 71)
Demi Allah, setidak seorang pun di antara kalian kecuali dia akan mendatangi jembatan yang dihamparkan di atas neraka Jahannam. Itu adalah ketentuan dari Rabb-mu yang sudah dipastikan.
Jadi ada yang menafsirkan mendatangi Jahannam artinya mendatangi jembatannya. Dan ada yang menafsirkan mendatangi Jahannam, dia datangi betul nerakanya. Tapi kalau dia kafir, dia langsung masuk dalamnya. Kalau mu’min, dia hanya melihat, setelah itu dia melewatinya. Melewati ini hikmahnya supaya seorang mu’min itu ketika dia masuk ke surga, dia pernah melihat Jahannam, ngerinya dan dahsyatnya. Maka dia semakin bersyukur kepada Allah dimasukkan ke dalam surga, dibebaskan dari api neraka.
Setelah ‘Asirat, di situ sebagian ulama dia mengatakan masih ada qisas lagi di situ. Di situlah masih ada orang yang punya amalan-amalan, ada yang menuntut dia, dia bayar. Orang yang menuntut dengan kebaikan-kebaikannya. Ada yang habis sudah amalan kebaikannya, masih ada yang menuntut, maka dosa orang itu dia tanggung. Lalu setelah itu dia dilemparkan ke dalam neraka.
Setelah selesai dari qisas berikutnya adalah memasuki surga. Jadi itu keimanan terhadap kehidupan akhirat. Ini yang tercakup di dalamnya. Allah Ta’ala ‘Alam.
Keimanan kepada Al-Qadar
Dan yang terakhir adalah keimanan kepada Al-Qadar. Keimanan kepada takdir yang baik dan yang buruknya. Wa nu’mina, wa tu’mina bil qadari khairihi wa syarihi. Engkau beriman kepada al qadar khairihi wa syarihi. Beriman kepada takdir yang baik dan buruknya. Al qadar di sini maknanya al makdur. Engkau beriman kepada yang ditakdirkan. Yang baik dan yang buruknya. Sebab takdir terbagi dua, baik dan buruk, itu terkait dengan al makdur, apa yang Allah takdirkan. Apa yang Allah tentukan. Itu ada dua. Ada yang baik, ada yang buruk. Ada keimanan, ada kekafiran. Ada kebaikan dan ada kejelekan. Ada Abu Bakr, ada Fir’aun. Ada orang yang salih, ada orang yang fasik. Ada mu’min, ada kafir. Jadi yang ditakdirkan itu baik. Ada yang baik dan ada yang buruk.
Tapi kalau perbuatan Allah menakdirkan, perbuatan Allah menakdirkan semuanya baik, tidak ada buruknya. Allah menakdirkan adanya keimanan itu baik di sisi Allah. Allah menakdirkan adanya kekufuran itu baik di sisi Allah. Sebab ada hikmahnya di sisi Allah. Perbuatan Allah selalu baik.
Jadi ini keimanan kepada takdir. Keimanan kepada takdir itu terkandung di dalamnya empat hal. Yang pertama, mengimani bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ditakdirkan. Yang kedua, mengimani bahwa segala yang ditakdirkan itu tercatat di Lauhil Mahfuz. Dan yang ketiga, mengimani bahwa segala yang ada ini itu terjadi dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan yang keempat, mengimani bahwa segala yang ada, segala makhluk itu adalah ciptaan Allah. Allah yang menciptakan dan mengadakannya.
Jadi ini empat perkara dari keimanan kepada takdir. Terkait dengan dalil-dalilnya, ini ada pembahasan khusus ya. Kita akan kaji nanti insyaallah pada tempatnya. Ini di pembahasan Al-Aqidah Al-Wasitiyyah, insyaallah kita akan uraikan lebih mendalam di situ. Tapi ini empat ini dasar pokok dalam keimanan kepada takdir.
1. Allah mengetahui segala yang ditakdirkan
Yang pertama, kita imani bahwa segala yang ditakdirkan, Allah mengetahui. Tidak mungkin ada yang ditakdirkan Allah tidak tahu. Kekafiran orang-orang Qadariyah. Itu setelah mereka mengatakan, sesuatu itu kalau baru terjadi, Allah baru tahu. Sebelumnya Allah tidak tahu katanya. Ini kekafiran orang Qadariyah. Yang disepakati oleh para ulama.
Mirip dengan kekafirannya orang Syiah Rafidhah. Orang Syiah itu punya akidah namanya akidah al-bada’. Artinya al-bada’, Allah berubah pikiran. Ini Naudzubillah. Tadinya Allah sudah menetapkan begini, kemudian Allah berubah pikiran, kemudian Allah tetapkan begini. Ini dari kekafirannya orang Yahudi. Dan ini yang disebarkan oleh orang-orang Syiah, ada di buku-buku mereka disebut dengan nama yang kedua.
2. Segala yang ditakdirkan tercatat di Lauhil Mahfuz
Dari keimanan kepada takdir, mengimani bahwa segala yang ditakdirkan tercatat Di Lauhil Mahfuz. Apa saja yang ditakdirkan sudah dicatat. Segala yang ditakdirkan tersebut.
3. Segala yang terjadi Kehendak Allah
Dan yang ketiga, kita mengimani bahwa apa yang Allah adakan, apa yang Allah ciptakan, itu terjadi dengan kehendak Allah. Tidak mungkin ada sesuatu dalam kekuasaan Allah terjadi tanpa Allah menghendakinya.
Ini orang menyimpang yang mengatakan, kalau si hamba berbuat maksiat, ini ciptaan hamba sendiri. Kehendak hamba sendiri, bukan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini menyimpang. Sebab tidak mungkin ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kenapa ada orang aneh seperti ini mengatakan bahwa hamba kalau berbuat maksiat itu kehendaknya sendiri, bukan kehendak Allah? Ini dasar pemahaman yang keliru dalam takdir. Karena dia pandang kalau kemaksiatan ini terjadi dengan kehendak Allah, berarti Allah menghendaki Kejelekan. Dan tidak boleh kita katakan Allah menghendaki kejelekan. Ini dia sudah jatuh dalam kekeliruan, kesesatan. Yang pertama dia qiaskan perbuatan makhluk dengan perbuatan Allah. Kemudian yang kedua, dianggap bahwa segala yang ditakdirkan itu pasti Allah cintai. Tidak. Takdir itu apa yang Allah kehendaki, ada yang dicintai oleh Allah, dan ada yang tidak dicintai oleh Allah. Ditakdirkan Karena Allah punya hikmah di belakangnya.
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al-Ankabut: 1-2)
Apakah manusia menyangka akan dibiarkan begitu saja berucap: “Kami beriman” dan mereka belum diuji? Jadi adanya kekafiran itu ujian. Siapa yang benar Keimananya. Jadi Allah menakdirkan kekafiran, perbuatan Allah menakdirkan baik. Sebab itu ada hikmahnya. Tapi kekafiran sendiri Allah tidak cintai. Allah telah berfirman:
وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلْكُفْرَ
Dia tidak meridai kekafiran bagi hamba-Nya (QS. Az-Zumar: 7)
dan menjadikan iman itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. (QS. Al-Hujurat: 7)
Allah tidak meridai kekafiran untuk hamba-Nya. Allah membuat kalian itu menjadikan haram hal yang dibenci terhadap kalian. Kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan. Jadi ini semuanya tidak bertentangan. Jadi apa yang ditakdirkan atau apa yang ada dari makhluk itu, Allah yang menghendakinya.
4. Semua makhluk Ciptaan Allah
Yang keempat, beriman kepada takdir, apa yang ada dari makhluk, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengadakan dan menciptakannya. Allah yang mengadakan dan menciptakannya. Karena Allah yang firman, Allah yang menciptakan segala sesuatu.
ٱللَّهُ خَـٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍ
Allah menciptakan segala sesuatu (Az-Zumar: 62)
Ini saja empat hal ini. Kalau diakini maka akan lurus keimanan seseorang di pembahasan Takdir. Kalau ada syubahat-syubahat sana sini, syubahat itu kalau menyelisih empat ini, ditolak saja dulu. Ini batil, anggap batil. Kalau menyelisih empat ini. Bagaimana caranya mengetahui dia batil? Nanti kalau kita belajar lebih mendalam lagi akan kelihatan. Ini namanya kaedah awal pokok kewajiban.
Nah itu pentingnya seorang mengenal dasar kewajibannya. Supaya dia teguh dulu di atas petunjuk. Bisa menghindar dari kejelekan-kejelekan. Nanti kalau dia belajar lebih mendalam, dia akan lihat nanti bagaimana kebatilan itu betul-betul batil. Akan lebih kelihatan.
Dalil-Dalil Rukun Iman
Jadi sudah selesai di sini pembahasan tentang Enam rukun iman. Sekarang penulis menjelaskan dua dalil. Ada dalil terkait dengan lima rukun dan ada dalil terkait dengan Takdir.
Yang pertama ada dalil ayat Surah Al-Baqarah. Tafsir ayat Surah Al-Baqarah tentang lima rukun iman. Dalil terhadap enam rukun ini dalam firman Allah Ta’ala. Dalil atas enam rukun ini adalah firman Allah Ta’ala:
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, (Al-Baqara: 177)
“Bukanlah suatu kebajikan engkau menghadapkan wajah kalian ke timur dan ke barat.” Maksudnya kebaikan itu tidak terbatas pada itu saja. Dan itu bukan pokok dari kebajikan. Tapi kebajikan yang paling pokoknya, yang sesungguhnya adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, dan kitab-kitab serta nabi-nabi.
Di Surah Al-Baqarah, penyebutan rukun ada lima. Jadi katakan bukanlah kebaikan itu. Jadi terkait dengan kebaikan, yaitu bukan terbatas pada masalah kalian menghadap kemana di waktu ibadah. Tapi pokok kebaikan itu yang dikatakan dengan kebaikan adalah apa yang disebut pada ayat ini. Lima. Ini pokoknya. Keimanan kepada Allah, hari akhirat, para malaikat, kitab Allah, dan para Nabi.
Kemudian beliau terangkan dalil tentang takdir. Jadi di sini tidak disebut dalil. Tadi cuma disebut lima. Adapun tentang takdir, dikhususkan ayat-ayat tentang takdir dalam Al-Quran. Karena itu oleh penulis ditambah satu dalil lagi. Dalil tentang takdir adalah firman Allah Ta’ala:
إِنَّا كُلَّ شَىْءٍ خَلَقْنَـٰهُ بِقَدَرٍ
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Al-Qamar: 49)
Sesungguhnya segala sesuatu itu kami ciptakan dengan qadar. Kami ciptakan dengan takdir. Jadi apa saja yang Allah ciptakan, segala sesuatu yang Allah ciptakan itu diciptakan berdasarkan takdir. Allah yang menakdirkannya. Ini diantara dalil yang menunjukkan bahwa segala yang Allah adakan itu apa yang Allah takdirkan. Segala yang Allah adakan itu Allah yang menakdirkannya, Allah yang menciptakannya, Allah yang menghendakinya.
Sengan ini selesai sudah pembahasan tentang rukun iman.
Wallahu Ta’ala ‘Alam
Referensi:
Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah
Landasan Kedua: Mengenal Agama Islam dengan Dalil-Dalil
Tingkatan Kedua: Iman
Definisi dan Makna Iman
Tingkatan kedua adalah iman. Ini beliau mulai masuk di pembahasan martabah yang kedua. Tingkatan yang kedua dari tingkatan-tingkatan agama. Tingkatan agama ada tiga. Yang pertama Islam, yang kedua Iman, yang ketiga Ihsan.
Iman secara bahasa adalah al-ikrar, penetapan. Pengakuan dengan menerimanya. Itu yang disebut ikrar. Ikrar itu kadar lebih tinggi daripada at-tasdik. Tasdik itu kan penerimaan, dia benarkan. Kalau ikrar itu bukan cuma dia benarkan saja, bukan cuma dia percaya, tapi dia benarkan dan dia terima, dia akui.
Secara istilah, Iman itu ada dua makna. Ada makna umum dan ada makna khusus. Dalam makna umumnya, iman itu sama dengan Islam. Itu agama yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kalau dibahasakan, iman itu dengan istilah para as-salaf, dia adalah ucapan dengan lisan, keyakinan dengan hati, dan amalan dengan anggota badan. Itulah yang disebut dengan iman. Jadi iman di atas makna ini semakna dengan Islam. Jadi kita sudah bisa lihat, di lingkaran besarnya Islam, pada lingkaran besarnya itu juga iman. Dan akan datang juga ihsan pada lingkaran besarnya juga masuk ke situ. Ada makna umum yang semuanya bertemu di situ. Karena itu semuanya masuk di dalam kategori sebagai agama.
Perlu dibedakan antara keterkaitan Islam dan Iman. Kata para ulama, Islam dan Iman itu ida jitama’a iftaraka wa idaftara’a wa idaftara’a ijitama’a. Islam dan Iman apabila ijitama’a disebut bersamaan, maka iftaraka, maknanya berbeda. Maknanya berbeda. Karena itu Nabi ketika disebut Islam disebut iman di hadits Jibril, Nabi membedakan maknanya. Karena disebutkan bersamaan, iman beliau jelaskan dengan rukun Islam, beliau terangkan dengan rukun Islam. Iman beliau terangkan dengan rukun iman. Tapi kalau disebutkan bersendirian, iman dan Islam, maknanya sama. Ini kaedah umumnya di dalam memahami nas-nas yang terkait dengan Islam dan iman.
Ada pun iman dengan makna khusus. Inilah keyakinan-keyakinan batin disertai dengan amalan zahir yang membenarkan batinnya. Jadi rukun iman yang enam. Tapi harus ada amalan dhahir yang membenarkan apa yang ada di dalam batinnya. Jangan dia berkata saya beriman. Misalnya, tapi dia tidak pernah bersyahadat. La ilahilallah, Muhammadun Rasulullah. Dia berkata beriman. Dia sudah hidup sekian lama. Tidak pernah dia beramal dengan amalan kaum muslimin. Tidak pernah dia sholat. Tidak pernah dia menunjukkan ibadahnya kepada Allah. Tidak pula ada bentuk pengingkaran terhadap kesyirikan dan ahlu syirk. Maka ini namanya dia tidak ada bukti yang menunjukkan pengakuan apa yang ada di dalam hatinya. Apa yang ada di dalam batinnya.
Cabang-Cabang Keimanan (Syu’abul Iman)
Disini ada lima pembahasan. Yang pertama ta’riful iman, definisi iman. Definisi iman sudah jelaskan. Yang kedua, syu’abul iman, cabang-cabang keimanan. Penulis langsung masuk menjelaskan bahwa iman itu ada cabang-cabangnya. Dan disini penulis terkait dengan cabang-cabang keimanan beliau memilih 73 sampai 79. Ada dua riwayat disini. Ada riwayat yang mengatakan 70. Itu riwayat muslim.
Penulis rahimahullah beliau milih 73 sebab ini ada kadar tambahan ilmu di dalamnya. Jadi yang di dalamnya ada tambahan itu namanya pengetahuan. Orang yang ada tambahan pengetahuan itu hujah terhadap orang yang tidak mengetahuinya. Hanya saja sebagian ulama memandang bahwa dari sisi riwayat, riwayat al-Bukhari itu yang paling tinggi kedudukannya. Sedangkan di al-Bukhari itu disebutkan dengan lafad 63-69. Dan ini bukan masalah karena penyebutan cabang-cabang keimanan itu sudah dibahas oleh para ulama. Ditulis di dalamnya buku-buku. Dilacak begitu dari hadit-hadit Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dari ayat Al-Quran dan hadit-hadit Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Apa-apa yang merupakan bentuk dari keimanan. Maka dirinci keimanan-keimanan tersebut.
Ada kitab Al-Bihaki. Namanya Syu’abul Iman. Ada sekitar 8 jilid. Kemudian ada yang meringkasnya. Syu’abul Iman diringkas lagi. Dan juga Di antara ulama kita di masa ini Ada Syekh Abdurrahman bin Nasir As-Sidi. Beliau Punya buku namanya Syajaratul Iman. Pokok Keimanan. Beliau sebutkan dari cabang-cabang keimanan tersebut.
Yang jelas pembahasan tentang cabang keimanan ini pembahasan yang berharga. Karena seorang bisa masuk di dalam rincian-rincian keimanan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika beliau mengatakan bahwa iman itu banyak cabang, lebih antara 73 sampai 79, teriwati yang lain 63 sampai 69, maka Nabi terangkan tiga contoh. Ini lain disebut oleh penulis disini. Paling tingginya adalah ucapan, La ilaha illallah. Paling bawahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah bagian dari keimanan. Jadi beri tiga contoh oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Ada ucapan la ilaha illallah. Ini qoul. Tadi kita definisikan iman bahwa iman itu ucapan. Ada bentuknya menyingkirkan gangguan dari jalan. Menyingkirkan gangguan dari jalan, ini merupakan amalan. Dan rasa malu adalah bagian dari keimanan. Rasa malu termasuk keyakinan. Terkait dengan hati. Karena rasa malu itu tempatnya di hati. Kelihatan pengaruhnya di badan. Jadi kalau orang malu itu kadang terlihat dari Raut wajahnya. Terlihat dari gerak geriknya. Itu pengaruh rasa malu yang ada di dalam hati.
Jadi Nabi beri tiga contoh Yang mewakili iman itu seluruhnya. Jadi ada yang berupa ucapan. Ada yang berupa amalan. Dan ada yang berupa Keyakinan. Inilah keimanan. Yang paling tingginya Ucapan La ilaha illallah. Dan ini menunjukkan keutamaan Tauhid Dan tingginya, serta agungnya Tauhid itu. Sekaligus menunjukkan keutamaan La ilaha illallah.
Paling bawahnya adalah Menyingkirkan gangguan Dari jalan. Seorang mu’min tidak mengganggu mu’min yang lainnya. Kalau ada gangguan di jalan. Kerikil. Duri. Dia singkirkan. Itu menunjukkan keimanan pada dirinya. Sebab itu bagian dari keimanan. Apalagi kalau dia singkirkan Gangguan dari kaum mu’minin, hal yang bisa membahayakan agamanya. Jadi ada orang yang menyesatkan, ada orang yang memalingkan umat dari jalan yang lurus. Kemudian dia terangkan kesesatan pemikiran itu. Dia hindarkan umat dari penyimpangan. Maka ini lebih tinggi lagi kedudukannya. Kalau menyingkirkan gangguan dari jalan saja dapat pahala, apalagi dia menyingkirkan gangguan untuk umat yang membahayakan terhadap Agamanya. Dan disitulah jasanya para ulama ketika mereka menjelaskan kebatilan, mengingatkan bahaya bidah dan bahaya kesesatan. Karena itu, orang yang membantah ahlul bidah, itu disebut sebagai mujahid. Orang yang berjihad, di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan lebih afdal daripada jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan rasa malu adalah bagian dari keimanan, menunjukkan pentingnya rasa malu ini, diberi contoh oleh Nabi sebagai salah satu cabang dari cabang keimanan.
Iman itu seperti pokok. Memang digambarkan seperti itu di dalam Al-Quran. Tidak akan kau melihat bagaimana Allah membuat perumpamaan. Kalimat yang baik itu seperti pohon yang baik pula. Asluha thabit, akarnya itu tetap kuat ke dalam tanah. Batangnya, pokoknya menjulang ke langit. Itu keimanan. Jadi keimanannya kalau sudah benar, akarnya ini pasti akan kuat pohonnya. Sebab pohon itu dilihat pada akarnya ya. Dan akar ini itulah akidah dan keyakinan seseorang di situ. Sebab ini yang paling pokoknya. Kalau asalnya kuat besar, maka akan tumbuh pohon yang besar pula. Yang kuat. Dia bisa terus meninggi. Pohon itu, pohon keimanan itu semakin tinggi maka semakin banyak dari cabang-cabangnya, semakin banyak dahan-dahannya, dan akan semakin banyak hasil dan buahnya, semakin rindang dipakai untuk berteduh, semakin banyak manfaatnya untuk manusia.
Karena itu datang dalam sebagian riwayat, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memperumpamakan seorang mu’min itu seperti pohon kurma. Seperti pohon kurma. Karena pohon kurma ini kalau diperiksa, Semua dari pohon kurma ini Bisa dimanfaatkan. Semuanya bagus. Itulah seorang mu’min. Dia pada segala hal bermanfaat. Di kondisi apapun. Dia bisa menjadi keberkahan dan kebaikan. Dan pohon kurma ini Semakin tua Semakin tinggi maka dia semakin banyak buahnya, semakin banyak manfaatnya. Itulah seorang mu’min juga. Semakin umurnya bertambah, semakin bagus amalannya.
Jadi ini perumpamaan cabang-cabang keimanan. Membahas tentang cabang-cabang keimanan ini ini pembahasan yang sangat indah. Sebab di dalamnya seseorang itu bisa merasakan bagaimana indahnya iman, bagaimana luasnya pembahasan iman dan banyaknya pintu-pintu ketahatan di dalam keimanan tersebut.
Rukun Iman dan Dalil-Dalilnya
Yang ketiga, arkanul iman wa daliluha, tentang rukun iman dan dalilnya. Rukun iman disebutkan oleh penulis ada enam. Kata beliau Rahimahullah ta’ala, Wa arkanuhu Sittatun. Rukunnya ada Enam. An tu’mina billahi Wa malaiikatihi Wa kutubihi Wa rusulihi Wa liyumil akhir Wa tu’mina bil kadari Khairihi wa sharrihi.
Jadi rukun iman ada Enam. Ini rukun iman Enam inilah Yang wajib untuk dipelajari.
1. Keimanan kepada Allah
Rukun iman yang pertama, Tu minabilah. Engkau beriman kepada Allah. Keimanan kepada Allah itu Mencakup Empat hal. Keimanan kepada Allah mencakup Empat hal.
Keimanan akan adanya Allah Subhanahu Wata’ala.
Keimanan akan Rububia Allah Subhanahu Wata’ala. Mengimani bahwa Allah yang maha al-khalik, mencipta. Al-malik, yang maha memiliki. Al-razik, yang maha memberi rezeki. Al-mudabbir, yang maha mengatur segala perkara. Dibahasakan dengan bahasa lain, ifradu Allah ta’ala bi’afa’alihi, pengesahan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perbuatannya.
Keimanan terhadap uluhiyah Allah bahwa dia adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya yang berhak untuk diibadahi.
Keimanan terhadap Nama-nama Dan sifat Allah Subahanahu Wa Ta’ala.
Ini empat hal kadar yang wajib diketahui dalam keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Empat hal ini Sudah pernah berlalu semua pembahasannya. Sudah pernah berlalu Dasar-dasar pembahasannya Pada kajian-kajian yang telah lalu. Sisa Seseorang itu ketika dia membaca Buku-buku akidah, Dia semakin mendalam memahami agama. Dia akan semakin kuat nanti Pada empat hal ini Yang terkait dengan keimanan Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jadi keimanan akan adanya Allah ini itu ditunjukkan oleh dalil-dalil. Itu jatuhkan oleh syariat, oleh akal sehat, oleh fitrah dan bisa ditangkap oleh panca indera. Ada pun fitrah manusia memang asalnya manusia seperti itu. Awal diciptakan, Dia itu Berada di atas fitrahnya. Dia mengenal Yang menciptakannya. Dia mengetahui Terhadap yang menciptakannya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, Mami mauludin illa yuladuh Alal fitrah. Tidak ada anak yang dilahirkan Kecuali dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanya lah Yang membuatnya menjadi Yahudi Atau membuatnya menjadi Nasara Atau membuatnya menjadi Majusi.
Akal juga seperti itu. Menunjukkan adanya Yang mencipta. Subhanallah. Pernah disebutkan dari Abu Hanifah rahimahullah. Beliau pernah mendebat orang-orang yang tidak percaya adanya yang mencipta. Maka mereka masuk menjumpai Abu Hanifa. Abu Hanifa berkata, saya sedang berpikir tentang perahu. Perahu ini tidak ada nahkodanya. Dia singgah di dermaga. Kemudian dia angkut barang dan tumpangan. Kemudian dia berjalan mengaruhi samudera. Tiba di dermaga berikutnya, dia turunkan barang-barangnya. Padahal tidak ada orang di situ. Tidak ada nahkoda, tidak ada awak kapal. Kata orang-orang itu yang mengingkari adanya Allah ini. Mereka berkata, kami ini gila. Tidak mungkin ada perahu seperti itu. Kata Abu Hanifah, itulah yang kalian berada di tengahnya sekarang. Jadi seakan-akan tidak ada Allah yang mencipta seperti itu perumpamaannya. Jadi itu sebenarnya perumpamaan untuk mereka. Mereka itu kayak begitu cara berpikirnya. Jadi itu adalah hal yang mustahil. Jadi ini terungkap, kalau orang ini pakai akal sehatnya, dikasih perumpamaan, dia bisa berpikir seperti itu. Akhirnya, dengan hal itulah mereka sadar akan kekeliruannya.
Dan ini ditangkap oleh panca indera. Kita berdoa, memohon, dikabulkan dari doa itu, diberikan dari permohonan itu. Kita melihat dari tanda-tanda kebesaran Allah, dari berbagai ayat-ayat Allah SWT. Ini hal yang bisa terlihat dengan panca indera. Menunjukkan adanya Allah SWT, Yang mencipta. Jadi secara umum ini siapapun dari makhluk tidak diberi dalil syariat pun di dalam hal ini, dia pasti kalau masih berada di atas fitrahnya, dia pasti mengetahui ada Allah yang menciptakannya.
Yang kedua terkait dengan keimanan terhadap rububiah. Allah yang mencipta, menghidupkan, memberi rezeki, mengatur segala perkara. Ini sudah kita bahas ya bahwa kaum musyrikin juga di masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mereka mengakui ini. Mereka tidak mengingkari. Dan umumnya makhluk sepakat di atas hal ini.
Yang ketiga, keimanan terhadap uluhiyah. Ini yang banyak kekeliruan di dalam. Disinilah letak kekafiran kaum musyrikin. Karena mereka tidak beriman kepada uluhiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi ayat di surah Yusuf itu:
Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). (QS. Yusuf: 106)
Tidaklah kebanyakan mereka itu beriman kepada Allah. Kecuali mereka berbuat kesyirikan. Iman di situ maksudnya, Iman terhadap Rububiah Allah. Jadi tidaklah mereka beriman. Kecuali kebanyakannya mereka Berbuat kesyirikan. Syiriknya dalam uluhiahnya.
Dan yang keempat, keimanan terhadap nama-nama Dan sifat-sifat Allah. Telah kita terangkan ya bahwa kaum syirikin Di masa Nabi Itu mereka tidak dikenal Mengingkari nama dan Sifat Allah SWT. Kecuali nama Ar-Rahman. Ini sudah kita berikan perbandingan Antara kaum musyrikin di masa kini Dengan kaum musyrikin di masa dahulu. Kalau kaum musyrikin di masa kini Lebih banyak kesyirikannya daripada kaum musyrikin di masa dahulu.
2. Keimanan kepada Malaikat
Keimanan terhadap Para malaikat. Malaikat disini jama’. Kata malaikat Jama’. Soal malaikat itu Bukan cuma satu. Malaikat-malaikat Allah Subhanahu wa Ta’ala itu banyak. Malikat ini adalah makhluk-makhluk Allah yang diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepadanya. Dan mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka tidak pernah mendahului Allah dengan ucapan. Kalau diperintah, mereka selalu melaksanakan perintah tersebut.
Maka kewajiban kita terhadap para malaikat, itu terkandung padanya empat perkara.
Keimanan akan adanya para malaikat. Kita imani adanya malaikat tersebut.
Kita imani Dari malaikat yang diketahui nama-namanya. Seperti kalau disebut namanya Jibril, Kita imani namanya Jibril. Dan mereka memanggil wahai malik. Malik ini malaikat Penjaga neraka. Kalau disebut namanya, Kita imani Mikail, Israfil. Ini dari nama-nama malaikat. Disebutkan di dalam Al-Quran. Ketika disebutkan di dalam Al-Quran, Ini menunjukkan Kagungan nama-nama atau keaguan malaikat ini di sisi Allah.
Kita imani siapa yang disebutkan sifat-sifatnya. Seperti Jibril ‘Alaihissalam itu dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa Nabi pernah melihat Jibril di atas wujud aslinya. Dan Jibril memiliki enam ratus sayap yang telah menutupi ufuk. Maka kita imani akan sifat-sifat tersebut. Dan malaikat bisa berwujud manusia. Seperti Jibril datang dengan wujud manusia. Ada sebagian malaikat yang hadir di perang Badar, dia datang dengan wujud manusia. Sebagaimana para malaikat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala utus kepada Nabi Ibrahim, lalu mendatangi kaum Nabi Lut, itu juga datang dalam wujud manusia. Maka kita imani tentang sifat-sifat dari para malaikat tersebut.
Kita imani Siapa yang kita ketahui Dari amalan-amalan mereka. Apa amalan mereka Dan pekerjaan mereka. Jibril Amalannya menyampaikan wahyu. Mikail Ini yang diwakilkan padanya hujan dan tumbuh-tumbuhan. Israfil inilah yang meniup sangka kala. Maka tidak ada masalah kita imani dari nama-nama tersebut. Malik itu malikat penjaga neraka. Ada mengatakan bahwa Malaikat penjaga sorga namanya Ridwan. Tapi tidak ada hadit yang kuat. Ada yang mengatakan bahwa Malaikat pencabut nyawa namanya Israil. Dan ini juga Tidak ada dalil yang kuat Tentang hal tersebut. Asalnya kita cukup ya. Malaikat penjaga neraka. Malikat pencabut nyawa. Ada yang mengatakan Mencatat kanan dan kiri namanya Rokib dan Atid. Ini juga Sifat. Itu bukan nama. Itu pensifatan Tentang bagaimana sifat Dua malikat ini. Kalau mungkar dan nakir ini benar Nama. Nama dua malikat. Dua malaikat dimana Yang bertanya di alam kubur. Dan disebutkan bahwa dua malaikat ini Azraqani Aswadad, biru hitam. Jadi dua-duanya biru hitam. Ada yang mengatakan badangnya apa namanya biru, mukanya hitam. Ada yang mengatakan selain daripada itu. Yang jelas itu dua sifat. Tentang nama kita imani yaitu syah di dalam hadith Abu Hurairah. Ada malaikat yang diwakilkan untuk di perut ibu mencatat dari empat perkara. Ada malaikat yang diwakilkan untuk apa namanya mencatat amalan-amalan. Ada malaikat penjaga gunung. Karena itu pernah Jibril turun kepada Nabi dan membawa malaikat penjaga gunung siap diperintah. Itu Nabi diusir dari ta’if. Dikatakan kepada Nabi ini malaikat penjaga gunung, kalau engkau perintah al-akhsyabain, itu dibalikkan terhadap pendatuk taif, dia akan balikkan. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata, saya berharap di belakang mereka akan lahir orang-orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Jadi ini penyebutan sebagian tugas dari malaikat. Ada malaikat-malaikat yang disebutkan masuk ke Baitul Ma’mur. Ada Baitul Ma’mur di atas langit itu. Dikatakan setiap hari masuk 70 ribu malaikat beribadah tidak keluar lagi. Menunjukkan jumlah malaikat itu sangat banyak. Ada malaikat-malaikat yang berkeliling di majelis-majelis ilmu. Ada malaikat-malaikat yang berbolak-balik di pagi dan di petang. Karena itu dalam Al-Quran dikatakan, “tidak ada yang mengetahui tentang Robmu kecuali Dia saja“.
Dari manfaat-manfaat keimanan. Yang pertama dari manfaat keimanan adalah seorang mengenal keagungan Allah yang menciptakan malaikat ini. Kekuatan dan kemampuan dia. Bagaimana subhanallah, satu malaikat dari malaikat-malaikat Allah itu tidak ada yang bisa menahannya. Satu makhluk dari makhluk-makhluk Allah. Ada malaikat yang menyandang Arsy Allah Subhanahu wa Ta’ala. Disebutkan mereka menyandang Arsy ini jarak telinganya sampai ke ujung bahunya. Itu perjalanan 700 tahun. Bisa dibayangkan bagaimana besarnya mereka. Mereka menyandang Arsy, ada riwayat mengatakan empat orang. Tetapi di ayat disebutkan Delapan. Yang menyandang arsya robbu di atas mereka pada hari itu ada delapan malaikat. Yang mengkompromikannya mudah. Hadit yang mengatakan empat. Itu sekarang ini. Tapi nanti di hari kiamat yang menyandangnya ada delapan. Ada delapan yang menyandangnya. Dan di dalam sebagian hadith diterangkan tentang agungnya, banyaknya malaikat. Itu tidak ada di atas muka bumi ini empat jari kecuali ada malaikat di situ yang bersujud kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Jadi bercerita tentang malaikat ini kita akan mendapat faidah tentang keagungan, kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kekuatan dan keberkasaannya. Juga dari manfaat keimanan kepada malaikat, kita bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagaimana anak manusia ini betul-betul diberikan dari inayah, dari perhatian. Karena itu ada yang mencatat amalannya, ada yang menjaganya. Kalau dia taat, maka ada malaikat yang menjaganya.
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah (QS. Ar-Ra’ad: 11)
Dia punya muakibat. Muakibat disini maksudnya malaikat-malaikat yang menjaga dia di depan dan di belakangnya. Malaikat menjaga dia karena perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena itu di dalam hadith dikatakan, “Perihara Allah, jaga Allah, Allah akan menjagamu“. Salah satu dari bentuk penjagaan Allah untuk hamba, ada malaikat yang menjaganya. Kalau dia menjaga perintah-perintah, Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Demikian pula dari keimanan, adalah cinta kepada para malaikat. Makhluk-makhluk Allah yang mulia, makhluk-makhluk Allah yang taat, tidak pernah berdosa dan bermaksiat. Subhanallah. Di dalam hadith riwayat Bukhari dan Muslim itu diterangkan ya. Kalau Allah cinta kepada seorang hamba, Allah memanggil Jibril. Kemudian Allah berfirman, sungguhnya aku cinta kepada si Fulan, cintailah dia. Maka Jibril pun cinta kepada si Fulan itu. Lalu Jibril meniriakan ke penduduk langit, Sungguhnya Allah cinta kepada si Fulan. Hendaknya kalian mencintainya. Maka penduduk langit pun mencintai orang tersebut. Lalu diletakkan penerimaan Untuk orang tersebut di atas muka bumi. Inilah orang yang beriman dan bertakwa seperti itu.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. (QS. Maryam: 96)
Sungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal salih, Allah Ar-Rahman akan menjadikan wudha kecintaan untuk mereka.
Ada buku-buku ya ditulis tentang para malaikat. Keimanan terhadap para malaikat. Ada yang ringkas, ada yang tebal. Tapi bagusnya baca buku-buku yang sudah tersaring. Ada sebagian buku kadang berisi ada hadit-hadit lemahnya, israeliatnya. Apalagi kalau karya dari Asyuti. Asyuti ada tulisan tentang mereka. Biasanya Asyuti itu dia mengumpulkan dari sana sini. Ada hal yang bagus. Ada hal yang tidak bagus. Tapi kalau misalnya seorang mengambil dari buku-buku yang sudah disaring, itu ada sebagian buku ditulis di masa sekarang ini tentang keimanan terhadap para malaikat. Ini keimanan kepada malaikat ini penting. Bagian dari keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang kalau kenal fikih keimanan kepada malaikat itu dia akan kenal orang-orang yang sembarangan saja berbicara. Itu ada rekaman seseorang yang apa namanya sering mengajak berjihad ke Suria. Katanya di Suria itu turun para malaikat. Ada kisah-kisahnya. Terlihat orang pakai kuda putih berbaju putih. Gak tahu apa yang dia lihat. Mungkin benar ada yang dia lihat. Tapi mungkin saja itu jin. Kalau malaikat, malaikat kalau sudah turun dalam pertempuran. Itu tidak ada lagi kata kaum muslim masih tertindas. Pasti menang. Mereka kalau mereka sudah turun itu habis sudah. Bashar Asad dan pengikutnya. Itu mengajak orang untuk apa namanya berjihad dalam sangkaannya. Tetapi memakai dari keyakinan-keyakinan yang seperti itu. Ini kekurangan. Karena dia tidak paham tentang para malaikat.
Itu lihat para malaikat ketika turun di perang Badar, menang kaum muslimin. Menang kaum muslimin dan para malaikat. Kalau sudah turun selesai. Ketika turun para malaikat ke kaumnya Nabi Lut itu pasti Adat yang mereka dapatkan. Itu turunnya malaikat seperti itu. Ini sebagian orang jangan apa namanya tertipu dengan settingan-settingan di Youtube. Itu ada malaikat jatuh di atas Ka’bah, cahaya putih. Dia bikin ini dari hal-hal yang apa merusak keyakinan-keyakinan. Dan banyak hal-hal yang seperti ini yang terjadi di masa sekarang. Harus dicocokkan. Inilah pentingnya seorang pelajari dari keimanan, supaya dia kuat di atas akidah yang benar.
Wallahu Ta’ala ‘Alam
Referensi:
Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah
Dan ingatlah ketika Ibrāhīm berkata kepada bapaknya dan kaumnya, “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah ,tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku”. Dan (lbrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu. (QS. Az-Zukhruf: 26-28)
Ayat ini merupakan penegasan tentang Tauhid. Orang yang bertauhid itu jelas dalam penyampaiannya. Dia sampaikan dan terangkan kepada ayah dan kaumnya bahwa tidak ada yang disembunyikan. Bukan hal yang samar, tetapi perkara yang jelas dan terang-terangan dia sampaikan kepada ayah dan kaumnya. Disampaikan oleh Nabi Ibrahim Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Apa kata Nabi Ibrahim Shallallahu ‘Alaihi Wasallam? “Innani bara’un mimma ta’budun.” Sungguh, saya berlepas diri. Kata “bara” itu bermakna berlepas diri, benci, meninggalkan, dan memusuhi. “Mimma ta’budun” artinya dari apa yang kalian ibadahi. Ini adalah makna “La ilaha”, yang dalam istilah ilmu tauhid disebut sebagai an-nafiyu atau penafian. Rukun yang pertama adalah menafikan segala sesembahan selain Allah.
Lalu beliau berkata, “Illa alladzi fatarani.” Kecuali Allah yang mengadakanku. Ini adalah makna “Illa Allah”, yang disebut sebagai al-isbat atau penetapan. Kecuali Allah yang mengadakanku, yang menciptakanku. Itulah yang aku ibadahi. Jadi, ini adalah makna lengkap dari La Ilaha Illallah.
Selanjutnya, “Fa innahu sayahdin.” Karena Allah-lah yang akan memberi hidayah kepadaku. “Wa ja’alaha kalimatan baqiyatan fi aqibihi la’allahum yarji’un.” Dijadikan kalimat tauhid ini sebagai kalimat yang kekal di dalam keturunan Nabi Ibrahim Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, supaya mereka kembali, supaya mereka kembali kepada jalan yang benar, di mana mereka memberi petunjuk kepada orang-orang yang menyimpang menuju kepada jalan tauhid.
Jadi, ayat ini mengandung nafi (penafian) dan isbat (penetapan). Karena itu, kata Ibn Al-Qayyim Rahimahullah, Allah Ta’ala memerintah kita untuk mengikuti Nabi Ibrahim, imam tauhid ini, di dalam penafian dan isbat beliau. Jadi ada dua hal di sini: beliau menafikan, tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, berlepas diri, membenci, dan memusuhi apa yang mereka ibadahi. Dan beliau menetapkan ibadahnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Inilah makna al-wala (cinta dan loyalitas) dan al-barah (berlepas diri).
Tafsir Ayat Surah Ali ‘Imran tentang Persatuan Agama
Tafsir yang pertama adalah ayat yang pertama yang menafsirkan, dan ayat yang kedua yang menafsirkan. Dan juga firman Allah Ta’ala dalam Surah Ali ‘Imran:
Katakanlah, “Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Ali ‘Imran: 64)
Katakanlah, sampaikan kepada mereka, wahai Ahli Kitab, yaitu Yahudi dan Nasara, dan siapa yang mengikuti sejalannya dengan mereka. “Ta’alau” artinya kemarilah, datanglah kalian. “Ila kalimatin sawain bainana wa bainakum.” Kepada satu kalimat, satu kalimat yang tidak ada yang lain. Tapi kalimat ini adalah kalimat yang adil, pertengahan, antara kami dan kalian. Kalimat yang sama, di mana tidak ada seorang rasul pun yang berselisih tentangnya. Tidak ada satu kitab pun yang berbeda di dalam hal ini. Semuanya sama. Kami dan kalian sama dalam hal itu.
Kalau mereka ingin melihat agama para nabinya, ingin melihat kitab-kitab yang pernah diturunkan kepada para nabi, seluruh kitab, seluruh rasul sama dalam hal ini. Apa itu? “‘Alaa na’buddailallah.” Tidak boleh kita beribadah kecuali hanya kepada Allah. “Walanusyirikabihi syia.” Dan tidak boleh kita berbuat kesyirikan kepada Allah dengan suatu apa pun. Dan jangan sebagian dari kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Robb-rob yang diibadahi selain daripada Allah.
Penggunaan kata Robb di sini bermakna al-ma’bud, bermakna yang diibadahi. Karena itu sudah berlalu penggunaan kata rububiyah di uraian penulis, Ar-Rabb huwa al-ma’bud. Ini salah satu penggunaannya dalam Al-Qur’an. Jadi ini adalah kalimat bersepakat antara seluruh agama. Kalau mau ingin cari titik kesepakatan antara seluruh agama, ini titik kesepakatannya. Titik kesepakatannya adalah: tidak boleh beribadah kecuali hanya kepada Allah, tidak boleh berbuat kesyirikan, dan tidak boleh sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Robb yang diibadahi.
Karena itu, dimaklumi dari sini bagaimana orang-orang Yahudi dan Nasara telah merubah agama mereka, telah keluar dari agama mereka. Kalau mereka berpaling, tidak menjawab, mundur, maka katakanlah “Ishhadu”, persaksikan. Maka katakanlah, ini kembali kepada umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, katakanlah umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, persaksikanlah “Bianna muslimun”, bahwa kami ini adalah muslimun. Ini tafsir Islam. Itulah yang dibahasakan oleh penulis: Al-Islamu lillahi bit-tauhid, wal inkiyadu lahu bi-ta’ah, wal barathu minasy-syirki wa ahlihi. Ini penafsirannya umum tentang Islam.
Selesai tentang makna syahadat La Ilaha Illallah. Penulis setelah membawakan dalil tentang syahadat, ayat di Surah Ali ‘Imran: Syahidallahu annahu la ilaha illallah. Ini ayat ada pembahasannya di pembahasan ilmu, di kitab Al-Ilm. Ibn Al-Qayyim menyebutkan dari ayat ini, terdapat 10 keutamaan ilmu dan ulama pada ayat ini.
Dalil dan Makna Syahadat Muhammad Rasulullah
Sekarang penulis berpindah ke pembahasan syahadat Muhammad Rasulullah. Ini pembahasan yang kelima: Dalil syahadati anna Muhammadan Rasulullah wa tafsiruhu. Dalil syahadat La Ilaha Illallah, syahadat Muhammad Rasulullah, dan tafsirnya. Sekarang syahadat Muhammad Rasulullah. Apa dalilnya?
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. At-Tawbah: 128)
Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri. Rasulnya ini berasal dari diri-diri kalian, dari kalangan kalian sendiri. Kalian kenal nasabnya, kalian kenal kejujurannya, kalian kenal amanahnya. Rasul ini bukan orang yang tiba-tiba muncul, tiba-tiba ada, tiba-tiba hadir di tengah kalian. Rasul yang kalian kenal. Ini sifatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Rasul ini sangat berat hati kalau umatnya menentang. Kalau umat ini menentang, tidak ikut kepada Nabi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedih dengannya. Beliau merasa berat terhadap hal tersebut. Ini karena besarnya kasih sayang dan rahmat Nabi, dan semangat beliau agar orang-orang itu dapat hidayah. Karena itu, kalau ada yang berpaling, ada yang kafir, beliau sedih akan hal tersebut. Sampai pernah ditegur Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam Al-Qur’an di Surah Fatir: janganlah diri engkau, Nabi Muhammad, pergi meninggalkan mereka penuh dengan kesedihan. Hidayah itu di tangan Allah. Allah memberi hidayah kepada siapa yang Allah kehendaki, Allah menyesatkan siapa yang Allah kehendaki.
Tapi, subhanallah, dari kasih sayang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan semangat beliau untuk kebaikan umatnya, beliau berat kalau ada yang menentang. Ini sifat seorang Rasul. Karena itu, seorang mu’min harus memiliki sifat ini. Kalau ada yang keluar dari jalan yang lurus, dia kasian terhadap orang tersebut. Ada sebagian manusia, kadang kalau saudaranya jatuh dalam kekeliruan, ketergelinciran, malah dia senang, gembira. “Wah, ini dia salah. Wah, ini kesempatan, kita sikat dia dari sini.” Ini bukan akhlak yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Kalau ada saudara kita yang tergelincir, kita bantu dia. Untuk berada di atas ketaatan. Kita ingatkan akan kesalahannya, bukan dibiarkan kesalahannya. Kalau kesalahannya dibiarkan, itu namanya orang mau jatuh di jurang, biarkan saja dia jatuh di jurang. Itu namanya membiarkan kebinasaan pada saudara. Tapi kita tarik tangannya, kita ingatkan kesalahannya, diperbaiki dengan hal yang menyebabkan dia bisa rujuk, dia bisa kembali. Orang yang mengingatkan itu, menampakkan bahwa dia ini betul-betul mencintai hidayah untuk saudaranya. Begitu akhlaknya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan ini banyak dari kita kurang di dalam hal ini. Ini dari akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang sangat besar.
Sifat beliau yang berikutnya, beliau ini sangat bersemangat atas kalian. Sangat semangat kalian itu mendapat hidayah. Sangat bersemangat kalian itu lepas dari api neraka. Kalau kita baca di sirah beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, disebutkan di dalam tafsir Surah Al-A’raf, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengutus utusan kepada seorang pendeta supaya masuk Islam. Maka orang ini berkata, “Apa Robb yang kamu ibadah itu? Apakah dia terbuat dari emas? Terbuat dari perak? Dari tembaga?” Bukannya menerima, malah dia mengolok-olok. Maka kembali utusan kepada Nabi, kembali utusan kepada Nabi melaporkan jawaban orang tersebut. Nabi berkata, “Kamu kembali lagi kepadanya.” Kembali lagi, diajak lagi. Dia tetap ulangi ucapannya. Kembali si utusan kepada Nabi. Nabi berkata kepada si utusan, “Kamu kembali lagi kepadanya.” Terus kembali, jawabannya sama. Maka di situlah Allah Subhanahu wa Ta’ala kirim petir, membakar orang tersebut.
Tapi perhatikan, dari semangat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, hidayah terhadap manusia. Pamannya, terus dia tawari masuk Islam sampai di akhir hayatnya. Anak muda Yahudi dikunjungi oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sementara dia sakit. Diajak bersyahadat La Ilaha Illallah. Ketika anak muda ini diajak masuk Islam, anak muda ini menoleh kepada ayahnya Yahudi. Ayahnya, karena melihat akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam datang mengunjungi anaknya, ayahnya berkata, “Ati’ Abal Qasim.” Taatilah Abul Qasim, maksudnya Nabi Muhammad. Taati, kau masuk Islam. Maka anak muda ini pun bersyahadat, La Ilaha Illallah, Muhammad Rasulullah. Maka Nabi keluar, menangis karena anak muda itu, seraya berkata, “Alhamdulillahilladzi angkadahu minan nar.” Segala puji hanya untuk Allah yang membebaskan dia dari api neraka.
Ini agama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Bagaimana semangatnya beliau agar manusia mendapat hidayah, dan bagaimana menyelamatkan manusia dari apa? Dari api neraka. Itu para da’i seperti itu. Dia cinta hidayah untuk orang. Dia cinta manusia itu selamat dari api neraka. Bukan dia cari ridhanya manusia, senangnya manusia. “Oh, ini terlalu banyak yang ikut kepada saya, mendengar ucapan saya.” Kalau bahasa orang sekarang, “Terlalu banyak yang nge-fans ke saya.” Jadi kalau fans-nya sudah banyak, “Wah, ini kalau saya bicara begini, khawatir nih fans di Facebook ini pada kabur semua. Ya, followers saya ini berkurang satu persatu. Takut.” Akhirnya dia ikuti apa saja yang dianggap ridha oleh manusia, walaupun menyelisih hadits Rasulullah, menyelisih ayat Al-Qur’an. Dan ini ciri bahwa seorang itu tidak mengikuti jejak Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Ini di antara ciri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: sangat bersemangat atas kalian dan terhadap kaum mu’minin. Beliau ra’uf terhadap orang yang beriman. Beliau ini adalah seorang yang ra’uf, yang sangat belas kasih. Ra’fah ini dari kata sayang, maknanya lebih lembut lagi. Rahim dan sangat merahmati mereka. Ini dua sifat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: Ar-Ra’fah, Ar-Rahmah. Beliau punya kelembutan, belas kasih kepada umatnya sangat besar sekali. Karena itu beliau sangat serius kebaikan untuk mereka. Ditunjukkan kepada mereka segala kebaikan. Bukan kebaikan saja yang ditunjukkan, segala kejelekan juga diingatkan. Dan terhadap kaum mu’minin beliau sangat merahmati. Ini makna Ar-Rahim. Penuh dengan rahmat kepada umatnya. Itulah sifat Nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Empat Makna Pokok Syahadat Muhammad Rasulullah
Kemudian penulis Rahimahullah jelaskan tentang makna syahadat “Anna Muhammadan Rasulullah”. Ini pembahasan yang keenam. Makna syahadat: Sungguh, Muhammad adalah Rasul Allah. Kata beliau, makna Muhammad adalah Rasulullah. Disebutkan ada empat makna pokok.
1. Menaati Perintahnya
Yang pertama, ta’atuhu fi ma’amar. Taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada apa yang beliau perintahkan. Menaati segala perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Karena itu telah datang ayat-ayat perintah taat kepada Nabi itu di dalam Al-Qur’an. Kata Imam Ahmad, lebih dari 30 tempat Al-Qur’an perintah taat kepada Rasul. Bahkan di Surah An-Nisa, Allah berfirman, “Siapa yang taat kepada Rasul, dia telah taat kepada Allah.” Dijadikan ketaatan kepada Rasulnya sebagai ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Membenarkan Kabarannya
Yang kedua, wa tashdiquhu fi ma akhbara. Membenarkan apa yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Apa yang dikabarkan oleh Nabi? Kita benarkan. Ini konsekuensi dari syahadat. Kalau Nabi mengabarkan sesuatu, kita mengabarkannya. Kita mempercayainya, menerimanya. Karena Allah telah berfirman, “Nabi itu tidak pernah berucap dari hawa nafsunya. Yang beliau ucapkan adalah wahyu, yang diwahyukan kepada beliau.” Karena itu apa yang dikabarkan oleh Nabi itu adalah wahyu. Apalagi perkara ghaib, tidak mungkin Nabi berucap sesuatu dari dirinya sendiri. Maka apa saja yang dikabarkan oleh Nabi, kita bisa memahaminya, tidak bisa memahaminya, kita lihat atau tidak kita lihat, yang ghaib maupun yang nyata, yang masuk di akal kita maupun yang tidak masuk di akal kita, kita wajib untuk menerimanya, untuk mempercayainya, untuk mempercayainya.
3. Menjauhi Larangannya
Kemudian yang ketiga, dan menjauhi segala yang beliau larang dan beliau cegah. Segala yang beliau larang dan beliau cegah, apa saja yang dilarang oleh Nabi? Dicegah, tidak boleh kita mendekatinya. Allah berfirman, “Apa yang dibawa oleh Rasul, terimalah dia. Dan apa yang dilarang oleh Rasul, tinggalkanlah dia.” Apa yang dibawa oleh Nabi dan diterima, apa yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka kita wajib untuk meninggalkannya. Hendaknya kita berhenti darinya, jangan sampai mendekatinya. Hendaknya berhati-hati. Orang yang menyelisih perintah Nabi, dia akan ditimpa oleh sebuah fitnah atau ditimpa oleh siksaan yang sangat pedih.
Dan di dalam Shahih Al-Bukhari, dari hadits Abu Khairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Artinya: “Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang yang enggan.” Ketika ditanya kepada beliau, siapa yang enggan ini? Kata beliau, “Siapa yang taat kepada aku, dia telah masuk surga. Dan siapa yang bermaksiat kepada aku, artinya dia telah enggan untuk masuk ke dalam surga.”
Dan juga dalam hadits Abu Hurairah, riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Artinya: “Apabila aku melarang kalian dari sesuatu, tinggalkanlah sesuatu itu. Apabila aku memerintahkan kalian dengan sesuatu, lakukanlah perintah itu sesuai dengan kemampuan kalian.”
4. Tidak boleh beribadah kepada Allah, kecuali Hanya Sesuai Syariat Allah
Kemudian yang keempat, dan tidak boleh beribadah kepada Allah kecuali apa yang Allah syariatkan. Ini kadang ada yang salah terjemah di sini. Tidak boleh beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyariatkan oleh Rasul. Tidak, syariat itu datangnya dari Allah. Kalau Rasul itu yang dibahasakan, beliau mewajibkan, mensyariatkan, mengajarkan, ada pun syariat, syariat datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu penggunaan kata syara’ di dalam Al-Qur’an dan Hadits, dan di istilah-istilah para ulama. Tidak ada penggunaan syara’, syari’, syara’ itu kembali kepada Nabi, tapi kembalinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ini yang keempat: tidak boleh seorang itu beribadah kecuali dibangun di atas apa yang Allah syariatkan. Apa yang Allah syariatkan, itulah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jadi konsekuensi dari syahadat. Tidak boleh seorang itu dalam beribadah, dia buat apa saja sesuai dengan keinginannya. Dia gunakan dari adat istiadat, kebiasaan, dia mengkias-kiasan hal-hal dalam ibadah. Itu tidak diterima dalam ibadah. Ibadah itu diterima di dalamnya dari perkara kias, dari mengadakan ibadah yang tidak dicontohkan oleh Allah dan tidak diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, itu adalah hal yang tidak diperbolehkan.
Maka ini dari kandungan syahadat Muhammad Rasulullah. Empat hal ini, empat makna pokok ya dari syahadat La Ilaha Illallah. Dan tentunya juga di dalam masalah kecintaan ya. Seorang tidak boleh cintanya itu melebihi kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, orang yang mendapatkan lezatnya iman, Ayakuna Allahu wa Rasuluhu ahabba ilaihi mimma siwahuma. Orang yang Allah dan Rasul-Nya yang paling dia cintai, melebihi keduanya. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Artinya: “Tidaklah salah seorang di antara kalian itu beriman, sampai dia menjadikan saya yang paling dia cintai, melebihi anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.”
Maka ini makna syahadat Muhammad Rasulullah. Dan ini pembahasan syahadat dari tema-tema yang bagus, yang selalu bagus diingatkan di tengah manusia pada masa sekarang ini. Masa banyak orang yang bikin perkara-perkara baru, melestarikan dari bid’ah-bid’ah. Itu paling bagus untuk mengobati dan memperbaikinya, kalau kita bahas tema apa itu ibadah, apa itu kandungan syahadat La Ilaha Illallah, kandungan syahadat Muhammad Rasulullah. Kalau diukur bagaimana ibadah itu diterangkan dengan kaidah-kaidah syariat, maka ini dari tema yang sangat berharga sekali untuk menjelaskan bagaimana hakikat dari penghambaan, hakikat dari agama Islam ini.
Dalil Salat dan Zakat serta Tafsir Tauhid
Berikutnya kita di pembahasan yang ke-7. Dalil solat wa zakah wa tafsiru tauhid. Dalil salat dan zakat serta tafsir dari Tauhid. Berkata penulis Rahimahullah Ta’ala, dan tafsir tauhid adalah firman Allah Ta’ala:
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah: 5)
Di sini penulis Rahimahullah membawakan satu ayat. Beliau pilih dengannya dalil untuk rukun yang kedua dan ketiga, dalil bahwa sholat adalah rukun Islam, zakat adalah rukun Islam. Karena dalil ini juga terdapat penjelasan tentang tauhid, maka kembali beliau ingatkan bahwa di dalam ayat juga ada tafsir tentang Tauhid. Ada tafsir tentang Tauhid, karena tafsir tentang Tauhid di mana dikatakan dalam ayat: “Tidaklah mereka diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah, Mukhlisina lahuddin, dan mengikhlaskan agama. Segala ibadah, segala ketaatan hanya untuk Allah. Di sini perintah untuk memberikan seluruh ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ini tafsir dari Tauhid.
Demikian pula pada kata Hunafa’, jamak dari Hanif. Hanif itu dari kata Al-Hanif, artinya Al-Maid, yang condong. Kenapa dikatakan condong? Karena dia condong kepada Tauhid, meninggalkan kesyirikan. Itulah tafsir dari Tauhid. Dan ini semuanya dikatakan sebagai Dinul Qayyimah, agama yang lurus. Inilah agama yang lurus.
Pada awal ayat itu adalah tafsir dari Tauhid. Kemudian diterangkan Wa Yuqimus Salata. Yang diperintah adalah mereka menegakkan salat. Bahasanya di sini menegakkan solat, menegakkan solat, bukan melaksanakan solat atau menunaikan solat, tapi menegakkannya. Menegakkan solat artinya dia lakukan solat sebagaimana yang diperintah, sesuai dengan syarat-syaratnya, rukun-rukun, kewajiban-kewajiban, dan sunnah-sunnahnya. Misalnya dari syarat solat, dilakukan pada waktunya. Dari syarat solat, dilakukan dalam keadaan bertaharah. Maka dikerjakan pada ketentuannya, pada syarat yang disyaratkan padanya. Sebagaimana seorang itu dia mengambil dari hal-hal yang diperintah, laki-laki dia sholat secara berjamaah. Kemudian dia melakukan sholat dengan khusyuk. Di dalam sholat ada rukun-rukunnya, di dalam sholat itu dia tunaikan semua yang merupakan rukun sholat. Demikian pula kewajiban-kewajibannya, dia kerjakan. Dan dia sempurnakan solat itu dengan melaksanakan sunnah-sunnahnya, apa yang dianjurkan di dalam solat tersebut. Inilah yang dikatakan dengan Iqamatus Solat, menegakkan solat.
Adapun dalil tentang zakat, pada kelanjutan ayat yang dikatakan: “Dan mereka mengeluarkan zakat.” Mengeluarkan zakatnya. Dan zakat yang dimaksud, zakat yang dimaksud adalah zakat pada apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah wajibkan. Dan kewajiban zakat itu pada empat hal:
Harta, yaitu pada emas dan perak, dan apa yang semakna dengannya.
Hasil ternak atau pada hewan ternak. Dan hewan ternak yang dimaksud ada tiga: unta, sapi, dan kambing. Kerbau semisal dengan sapi.
Hasil bumi.
Perniagaan.
Dan ditambah di dalam kewajiban zakat pada zakat fitri. Ini zakat yang dipungut di akhir Ramadan, karena nikmat seorang telah menyempurnakan puasa di bulan Ramadan dan mendapati hari Eid. Seorang mu’min dia menegakkan, mengeluarkan dari zakat yang diwajibkan terhadapnya.
Dikatakan di akhir ayat: “Dan itulah agama yang lurus.” Jadi agama yang lurus di sini ada tiga disebutkan: ibadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agamanya untuknya, dalam keadaan Hunafa’, kemudian menegakkan solat, dan mengeluarkan zakat. Ini semuanya dikatakan sebagai agama yang lurus. Dan ini juga menunjukkan bahwa agama itu bermakna iman sama. Iman dan agama itu mencakup keyakinan, ucapan, dan perbuatan.
Selesai dalil tentang solat dan zakat. Dan kewajibannya bahwa dia adalah rukun Islam. Terkait dengan keutamannya, hukum-hukum yang terdapat di dalamnya, keagungannya. Ini adalah pembahasan yang diuraikan oleh para ulama di dalam banyak ilmu, di banyak bidang ilmu agama. Apakah di dalam pembahasan hadits Nabi ataupun di dalam pembahasan fikih, ataupun di dalam pembahasan-pembahasan yang lainnya.
Dalil Puasa Ramadan
Berikutnya pembahasan tentang dalil puasa. Dalil siyam. Kata penulis Rahimahullah Ta’ala, dalil tentang puasa adalah firman Allah Ta’ala:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Dipanggil dengan panggilan apa? Keimanan. Tunjukkan bahwa ini adalah bagian dari keimanan. Kutiba alaikumussiyam. Telah diwajibkan atas kalian berpuasa. Dimulai dengan penegasan kewajiban. Kama kutiba ala ladzina minqabalikum. Sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian. Ini namanya tasliyah, hiburan. Jadi yang pertama dipanggil dulu dengan panggilan keimanan, setelah itu ditegaskan kewajiban kutiba alaikumus siyam. Sebab seorang mu’min memang seperti itu dasarnya, Sami’na wa Ata’na. Dia hanya tahu ada perintah, dia dengar dan dia taati. Tersorang mu’min, diwajibkan atas kalian berpuasa, langsung dia terima.
Tapi dari keindahan agama ini, diberi kemudahan. Karena itu diberi hiburan: “Sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian.” Ini kan hiburan, namanya. Kalian umat Islam diwajibkan berpuasa. Ini kewajiban puasa, bukan terhadap kalian saja. Umat-umat sebelum kalian juga sudah ada kewajiban apa? Kewajiban berpuasa. Ini kan meringankan. Dan lebih diringankan lagi, ditutup dengan disebutkan keutamaan: La’allakum tatakun. Supaya kalian bertakwa. Penyebutan keutamannya di belakang. Sebab keutamaan itu adalah hal yang memotivasi dia untuk berjalan. Itu keutamaan. Dasarnya dia Sami’na wa Ta’ana. Memang sudah bergerak dengan hal itu. Jadi keutamaan lebih mendorongnya. Lebih mendorongnya untuk lebih mendorong dan membimbingnya untuk berjalan. Ya.
Dan ini di dalam banyak pembahasan-pembahasan syariat seperti itu. Dimulai dengan penegasan kewajiban, baru setelah itu disebutkan keutamaan. Dan ini berbeda dengan sebagian orang yang sibuk dengan keutamaan-keutamaan. Semuanya seakan-akan bermuara dari Fadailul Amal. Karena itu kesibukannya adalah urusan Fadailul Amal. Mau hadits palsu, hadits lemah yang bentuk fadhal amal, dimakan semuanya. Nanti terkait dengan apa yang diwajibkan, dia ada yang mengerti mana yang diwajibkan, mana yang dianjurkan, mana yang sifatnya mubah, mana yang sifatnya makruh, mana yang sifatnya haram, dia tidak pahami karena dia tidak mengenal fikih di dalam hal tersebut.
Baik, jadi ini dalil tentang puasa. Dan puasa yang dimaksud di sini adalah puasa Ramadan.
Dalil Haji dan Urutan Rukun Islam
Kemudian yang terakhir, dalil haji. Kata penulis Rahimahullah Ta’ala, dalil haji adalah firman Allah Ta’ala:
mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Ali ‘Imran: 97)
Dalil tentang rukun Islam yang kelima yaitu tentang haji. Di sini penulis, beliau urutkan haji di rukun Islam yang kelima. Dan ini berdasarkan urutan di dalam hadits Umar Ibn Al-Khattab yang akan disebutkan oleh penulis. Dan para ulama berbeda pendapat tentang rukun Islam yang keempat dan kelima. Puasa dahulu baru haji, atau haji dahulu baru puasa? Ini ada silang pendapat di kalangan ulama. Kenapa ada silang pendapat? Karena ada riwayat seperti hadits Umar bin Al-Khattab yang akan datang, puasa dahulu kemudian haji. Dan ada riwayat haji dahulu baru puasa, seperti dalam hadits Ibn Umar, riwayat Bukhari dan Muslim.
Kalau dilihat dari sisi riwayat, hadits-hadits yang mengatakan haji dahulu kemudian puasa itu lebih sahih dan lebih banyak. Karena itu Imam Al-Bukhari Rahimahullah menguatkan ini. Beliau menguatkan haji dahulu, kemudian apa? Kemudian puasa. Itu yang tampak dari Al-Bukhari. Karena itu di dalam susunan kitab Shahih Al-Bukhari, diketemukan pembahasan haji dahulu. Adapun pembahasan puasa datang setelah pembahasan haji. Adapun Imam Muslim Rahimahullah, beliau sebaliknya. Beliau termasuk sama dengan penulis di sini, puasa dahulu kemudian haji.
Dan ini masalah tidak begitu rumit, bukan hal yang harus dikuatkan. Mau mengatakan rukun yang keempat puasa, yang kelima haji, atau sebaliknya haji kemudian puasa, semuanya sama saja. Sebab dua-duanya tetap terhitung sebagai Rukun Islam. Tapi kalau ingin menguatkan, memang pendapat yang mengatakan haji kemudian puasa itu lebih dekat. Alasannya karena hadits-hadits yang menjelaskan tentang haji kemudian puasa itu lebih banyak dan lebih sahih.
Kemudian yang kedua dari sisi mana? Di dalam pelaksanaan ibadah haji itu berkumpul padanya ibadah-ibadah agung yang tidak bertemu di tempat-tempat lainnya.
Kesimpulan Lima Rukun Islam
Jadi ini sudah lima rukun dari rukun Islam. Dan ini tingkatan pertama dari tingkat keislaman. Jadi kalau begitu kita simpulkan bahwa rukun Islam itu lima rukun Islam.
Yang pertama adalah syahadat La Ilaha Illallah dan Muhammadan Rasulullah. Ini syahadat. Penegasan tentang Tauhid hanya untuk Allah, dan penegasan bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kemudian yang kedua, kewajiban sholat. Sholat lima waktu yang dilakukan dalam sehari dan semalam.
Kemudian yang ketiga, zakat. Zakat pada harta. Sudah diterangkan harta apa saja yang diwajibkan padanya zakat.
Kemudian yang keempat, puasa. Maksudnya puasa Ramadan.
Dan yang kelima adalah haji. Haji ke Baitullah, Haji ke Ka’bah. Ini haji sekali saja, kewajibannya dalam seumur hidup.
Maka ini kadar kewajiban pada lima rukun ini.
Wallahu Ta’ala ‘Alam
Referensi:
Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah
Landasan Kedua: Mengenal Agama Islam dengan Dalil-Dalil
Rukun-Rukun Islam Beserta Dalil-Dalilnya
Penulis rahimahullah telah menjelaskan secara komprehensif mengenai definisi Islam serta tingkatan-tingkatannya. Pada bagian ini, pembahasan masuk ke dalam tingkatan pertama, yaitu penjelasan mengenai Arkanul Islam (Rukun-rukun Islam) beserta dalil-dalilnya.
Secara umum, kita akan membaca dan mempelajari lima rukun Islam. Setelah itu, pembahasan akan berlanjut ke rukun-rukun Iman, dan kemudian rukun Ihsan. Dari rincian pembahasan mengenai rukun Islam, rukun iman, dan rukun ihsan ini, akan tampak dengan jelas bahwa dalam agama Islam terdapat tiga aspek utama yang saling berkaitan. Pertama, hal-hal yang terkait dengan keyakinan (iman). Kedua, hal-hal yang terkait dengan perbuatan nyata (islam). Ketiga, hal-hal yang terkait dengan apa yang harus ditinggalkan (ihsan).
Ketiga hal ini merupakan pokok kewajiban dalam beragama. Ada hal-hal yang sifatnya perlu diyakini, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan keimanan dari rukun iman. Ada hal-hal yang perlu dikerjakan, yaitu hal-hal dzahir yang wajib dilaksanakan dari pokok-pokok keislaman. Dan ada hal-hal yang perlu ditinggalkan, yaitu segala sesuatu yang dilarang. Para nabi bersepakat bahwa agama para nabi mencakup meninggalkan lima hal utama.
Lima Hal yang Wajib Ditinggalkan Menurut Kesepakatan Para Nabi
Kelima hal yang wajib ditinggalkan tersebut adalah:
Al-Fawahish, yaitu segala bentuk kekejian.
Al-Itsim, yaitu dosa.
Al-Bagyu, yaitu kesewenang-wenangan atau mengambil hak orang lain tanpa hak.
Kesyirikan, yaitu menyekutukan Allah.
Berucap atas nama Allah tanpa ilmu.
Kelima hal ini merupakan pokok dari apa yang perlu ditinggalkan. Kesempurnaan dalam meninggalkan hal-hal tersebut mencakup jenjang ihsan. Hal ini menjelaskan sudut pandang lain dalam memahami tingkatan keislaman, di mana seorang hamba harus mengerti kadar kewajiban yang diwajibkan kepadanya.
Jika kita melihat secara luas, mengenal agama Islam beserta dalil-dalilnya merupakan pembahasan yang sangat luas. Namun, kadar wajib yang harus dikenal oleh setiap muslim dapat diringkas menjadi tiga pilar utama. Pertama, Islam yang terkait dengan lima rukun Islam, disertai dengan amalan batin berupa membenarkan keislaman tersebut. Kedua, Iman yang terkait dengan enam rukun iman, disertai dengan amalan dzahir yang membenarkan keimanan batin tersebut. Ketiga, Ihsan, yaitu jenjang ihsan itu sendiri.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, dapat dikatakan bahwa ada hal yang perlu diyakini, ada hal yang perlu dikerjakan, dan ada hal yang perlu ditinggalkan. Kadar wajib pada hal yang perlu diyakini terkait dengan rukun iman. Kadar wajib pada hal yang perlu dikerjakan terkait dengan rukun Islam. Sedangkan kadar wajib pada hal yang perlu ditinggalkan terkait dengan lima dosa yang disepakati oleh para Nabi dan Rasul.
Dalil Al-Qur’an tentang Larangan Lima Dosa Utama
Lima dosa yang wajib ditinggalkan tersebut disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 33. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Katakanlah, “Tuhan-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-A’raf: 33)
Penjelasan mengenai lima larangan tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama, Al-Fawahish. Kata Al-Fawahish adalah bentuk jamak dari Fahishah, yang berarti segala perkara yang dianggap keji dan buruk.
Kedua, Al-Itsim, yang berarti dosa.
Ketiga, Al-Bagyu, yang berarti kesewenang-wenangan tanpa hak. Dalam ilmu pendalilan dan pembahasan usul fikih, frasa “bighairi al-hak” (tanpa hak) di sini bersifat kashifah, yaitu sifat yang memperjelas. Sifat ini menegaskan bahwa kesewenang-wenangan itu selalu salah. Tidak ada kesewenang-wenangan yang benar. Kesewenang-wenangan selalu tanpa hak, dan sifat ini melekat padanya.
Keempat, diharamkan berbuat kesyirikan kepada Allah.
Kelima, diharamkan berucap atas nama Allah tanpa ilmu.
Para ulama menyatakan bahwa penyebutan lima dosa ini dalam ayat menggunakan metode dari yang paling ringan hingga yang paling berat, atau dari yang paling kecil hingga yang paling besar, dari tingkat paling bawah hingga paling atas. Tingkatannya adalah: Fahishah berada di tingkat dasar, di atasnya adalah Al-Itsim (dosa), di atasnya lagi adalah Al-Bagyu (kesewenang-wenangan), di atasnya lagi adalah Kesyirikan, dan di puncak tertinggi adalah berucap atas nama Allah tanpa ilmu.
Oleh karena itu, sejumlah ulama berpendapat bahwa berdasarkan ayat tersebut, berucap atas nama Allah tanpa ilmu adalah dosa yang paling besar. Hal ini karena kesyirikan itu sendiri merupakan bentuk dari berucap atas nama Allah tanpa ilmu. Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengadakan kedustaan atas nama Allah?” Dikatakan bahwa tidak ada yang lebih zalim daripada itu. Berarti, ini adalah dosa yang terbesar.
Oleh karena itu, kita harus berhati-hati terkait dengan masalah berucap atas nama Allah tanpa ilmu. Ini adalah masalah yang berbeda dengan masalah ikut-ikutan (taqlid buta). Masalah ini berkaitan dengan orang yang berbicara atas nama Allah tanpa ilmu. Kedua hal ini, yaitu ikut-ikutan dan berbicara atas nama Allah tanpa ilmu, merupakan dua sumber kesesatan bagi banyak manusia.
Lima Rukun Islam dan Dalil-Dalilnya
Penulis mulai menjelaskan bahwa Rukun Islam ada lima. Dalilnya disebutkan dalam hadis:
Rukun Islam ada lima: Bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan haji ke Baitullah Al-Haram.
Kelima rukun Islam tersebut adalah:
Syahadat, yaitu bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan bahwa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Rasulullah.
Mendirikan shalat.
Menunaikan zakat.
Puasa Ramadan.
Haji ke Baitullah Al-Haram.
Penulis di sini menempuh metode penjelasan yang sangat baik. Pertama, beliau menjelaskan secara global. Setelah itu, beliau masuk ke dalam rincian. Diberikan dulu penjelasan global bahwa Islam itu memiliki tiga tingkatan: Islam, Iman, dan Ihsan. Ketika masuk ke pembahasan Islam, disebutkan bahwa Islam ada lima rukun. Penjelasan global diberikan terlebih dahulu, kemudian baru dirinci satu per satu.
Adapun rincian tersebut, mula-mula beliau menjelaskan tentang syahadat. Syahadat itu ada dua bagian: syahadat La ilaha illallah dan syahadat Anna Muhammadan Rasulullah. Satu per satu beliau jelaskan. Pertama, syahadat La ilaha illallah.
Dalil dan Tafsir Syahadat La Ilaha Illallah
Dalil syahadat La ilaha illallah adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Allah mempersaksikan bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Dia, demikian pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu, (Allah) Yang menegakkan keadilan. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(QS. Ali ‘Imran: 18)
Setelah menyebutkan dalil, penulis menjelaskan makna La ilaha illallah dan membawakan tafsirnya. Tafsir yang dimaksud adalah penjelasan tentang makna syahadat dan apa yang memperkuat syahadat tersebut.
Makna La ilaha illallah adalah: La ma’buda bihakkin illallah, artinya tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah. Hal ini telah dibahas secara khusus dalam risalah tentang makna La ilaha illallah. Tafsir La ilaha illallah dengan makna tersebut adalah hal yang ditunjukkan secara jelas oleh dalil-dalil syariat. Banyak dalil yang menunjukkan hal itu, baik dari sisi bahasa, dari sisi pendalilan Al-Qur’an, dari sisi pendalilan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maupun dari sisi kesepakatan ulama. Semuanya menunjukkan tafsir akan makna La ilaha illallah ini.
Frasa “La ma’bud bihaqin illallah” (tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah) ditakdirkan bihaqkin (dengan hak) karena memang “La” di sini adalah nafyu lil jins (penafian jenis). “Ilaha” adalah isim, sedangkan khabarnya tidak disebutkan karena sudah dimaklumi. Orang Arab, jika ada hal yang sudah dimaklumi, kadang tidak menyebutkannya.
Hak tersebut karena Allah adalah Yang Maha Haq, Yang Maha Benar. Dan apa yang mereka ibadahi selain daripada Allah, itulah kebatilan. Maka tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hal ini pula yang ditunjukkan dalam sirah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajak manusia, khususnya orang-orang Mekah, untuk masuk ke dalam Islam, beliau berkata: “Ucapkan La ilaha illallah, kalian akan beruntung.” Maka mereka menjawab, “Apakah Nabi Muhammad ingin menjadikan yang diibadahi cuma satu? Ini adalah suatu hal yang menakjubkan.”
Jadi, tafsir dari kalimat itu tegas. Kaum musyrikin juga memahaminya, oleh karena itu mereka tidak terima jika yang diibadahi hanya satu. Para ulama, ketika menafsirkan perkara-perkara agama, pendalilan mereka jelas. Hal-hal yang mereka terangkan sangat gamblang, apalagi kalimat La ilaha illallah yang merupakan ciri keislaman seseorang. Tidak mungkin perkara ini samar. Sudut-sudut pendalilannya sangat gamblang.
Dua Rukun La Ilaha Illallah: An-Nafyu dan Al-Ithbat
Dikatakan di sini bahwa La ilaha illallah memiliki dua rukun. Pertama, La ilaha, yang berarti nafyan jami’amayu’badu min dunillah, yaitu kalimat “La ilaha” menafikan seluruh yang diibadahi selain Allah. Kedua, Illallah, yang berarti menetapkan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Tidak ada syarikat baginya dalam beribadah, sebagaimana tidak ada syarikat baginya dalam kekuasaan.
Jadi, rukun La ilaha illallah ada dua: An-Nafyu (penafian) dan Al-Ithbat (penetapan).
Apa artinya An-Nafyu? Ini yang dijelaskan di sini, yaitu berlepas diri dan menafikan segala yang diibadahi selain daripada Allah. Ini adalah An-Nafyu. Dia berlepas diri, memusuhi, dan membenci segala yang diibadahi, kesyirikan, dan para pelakunya.
Rukun kedua adalah Al-Ithbat, yaitu penetapan bahwa yang diibadahi hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Penetapan bahwa yang diibadahi hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya. Ibadah itu seluruhnya hanya untuk Allah. Penulis kembali menegaskan perkara yang sudah beliau terangkan sebelumnya, bahwa sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya yang berkuasa dan bersendirian dalam kekuasaan, maka Dia pula harusnya satu-satunya yang berhak untuk diibadahi.
Pengakuan terhadap Rububiyyah Allah mengharuskan pengakuan terhadap Uluhiyyah Allah. Pengakuan bahwa Allah satu-satunya yang mencipta, menghidupkan, berkuasa, memberi rezeki, serta mengatur segala perkara, itu harusnya menyebabkan seorang hamba mengakui bahwa Dia pula satu-satunya yang berhak untuk diibadahi.
Delapan Syarat La Ilaha Illallah
Selanjutnya, dibahas mengenai syarat-syarat La ilaha illallah. Ada delapan syarat.
1. Al-Ilmu (Ilmu) Syarat pertama dari La ilaha illallah adalah mengilmui tentang makna La ilaha illallah. Al-Ilmu adalah lawan dari Al-Jahl (kejahilan). Tidak boleh jahil terhadap maknanya. Ilmu ini selalu disyaratkan dalam La ilaha illallah. Dalam Al-Qur’an dikatakan:
إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Kecuali siapa yang menyaksikan dengan hak (kebenaran) dan mereka mengetahui.
(QS. Az-Zukhruf: 86)
Disyaratkan “ya’lamun” (mereka mengetahui), dalam keadaan dia mengetahui. Juga sama dengan ayat:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
Maka ketahuilah, bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah.
(QS. Muhammad: 19)
Ini adalah perintah Allah kepada Nabinya untuk mengilmui La ilaha illallah. Dari sisi hadis, sudah disebutkan sebelumnya hadis Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu riwayat Muslim:
Siapa yang mati dan dia tahu La ilaha illallah, dia akan masuk surga.
(HR. Muslim)
Jadi, syarat pertama adalah ilmu, lawannya adalah kejahilan. Dia harus mengilmui makna La ilaha illallah, yaitu makna yang sudah kita terangkan dua rukunnya. Tidak boleh dia jahil terhadap itu.
2. Al-Yaqin (Keyakinan) Syarat kedua adalah Al-Yaqin, yaitu dia yakin terhadap kalimat La ilaha illallah. Lawan dari yakin adalah As-Syak (keraguan). Keimanan itu seperti itu; orang yang beriman adalah siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian dia tidak ragu. Tidak ada keraguan.
Dalam Shahih Muslim dari hadis Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Saya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan aku adalah Rasulullah. Tidaklah seorang hamba berjumpa dengan Allah dengan dua kalimat ini dalam keadaan tidak ragu, kecuali dia masuk surga.
(HR. Muslim)
Jadi, syaratnya adalah tidak ragu.
3. Al-Ikhlas (Keikhlasan) Syarat ketiga adalah Al-Ikhlas. Lawan dari ikhlas adalah Riya’ dan Syirik. Riya’ dan sum’ah itu lawan dari keikhlasan. Tidak boleh ada kesyirikan. Jika syahadatnya benar, La ilaha illallah ada syaratnya, yaitu dia ikhlas. Tidak pernah ada kesyirikan yang dia perbuat, tidak ada riya’, tidak ada sum’ah. Karena agama hanya diterima dengan keikhlasan.
Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Itban bin Malik, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Sesungguhnya Allah mengharamkan terhadap neraka orang yang berucap La ilaha illallah, dia harapkan dengannya wajah Allah.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Itulah keikhlasan.
4. As-Sidq (Kejujuran) Syarat keempat adalah As-Sidq, yaitu kejujuran dan ketulusan. Lawan dari As-Sidq adalah Al-Kadzib (kedustaan). Tidak boleh ada kedustaan, tidak boleh mendustakannya seperti kaum munafikin. Dia harus jujur di dalam kalimat La ilaha illallah.
Karena itu, dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, disyaratkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hal itu:
Tidak ada seorang pun yang bersyahadat La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah, dengan jujur dari hatinya, kecuali diharamkan terhadapnya neraka.
(HR. Bukhari dan Muslim)
5. Al-Mahabbah (Kecintaan) Syarat kelima adalah Al-Mahabbah, yaitu kecintaan. Cinta terhadap La ilaha illallah, cinta terhadap maknanya, cinta terhadap kandungannya, konsekuensinya, dan cinta terhadap orang yang mengucapkannya. Lawan dari Mahabbah adalah Al-Bughdz (kebencian). Tidak boleh ada kebencian.
Ini penting. Selalu dipertanyakan tentang kalimat itu. Kadang sebagian manusia di masa ini, nasallah al-afiyyah, ada orang-orang yang jika disampaikan tentang perkara agama, terkait dengan masalah agama, ada saja sudut-sudut dari jiwanya yang membenci, tidak suka, ada yang fanatik, dan sebagainya. Ini kadang dia kurang mencermati kandungan dari La ilaha illallah.
Seorang muslim yang benar syahadatnya, dia itu cinta terhadap kalimat La ilaha illallah. Jika ada kemungkaran yang diingkari, dia tidak pernah marah. Jika ada kesalahan yang diingatkan, dia tidak akan benci akan hal itu. Ini bagian dari agama, bagian dari kecintaannya kepada La ilaha illallah. Jadi, harus ada Al-Mahabbah, kecintaan.
6. Al-Ingkiyat (Keterikatan) Syarat keenam adalah Al-Ingkiyat. Lawannya adalah Al-Tark (meninggalkan). Dia terikat dengan kalimat, tidak pernah meninggalkannya.
Nah, itulah kehidupan. Sebagaimana yang telah disebutkan, bahwa hidup ini tidak ada yang bebas. Hidup ini adalah perbudakan, keterikatan. Keterikatan kepada Allah, perbudakan kepada Allah. Jika dia keluar darinya, maka dia menjadi budak dirinya sendiri dan budak syaitan. Tidak ada yang dikatakan bebas dalam kondisi apapun. Maka yang paling indahnya, jika dia menjadi budak Allah.
Menjadi budak Allah diberi perumpamaan dalam Al-Qur’an, Subhanallah. Di Surah Az-Zumar, yang disebut juga oleh para ulama dengan nama Surah At-Tauhid karena kandungan tauhid di dalamnya, diberi perumpamaan tentang bagaimana tauhid dan bagaimana kesyirikan. Di dalam surah yang agung itu, tauhid diibaratkan seperti seorang budak yang cuma milik satu orang saja. Dan diperumpamakan kesyirikan itu seperti seorang budak yang bersyirik di dalamnya, banyak pemiliknya.
Apakah sama antara dua hal ini? Tentu beda. Ini di Surah Az-Zumar ayat 29:
Allah membuat perumpamaan, (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
(QS. Az-Zumar: 29)
Allah membuat perumpamaan seorang budak laki-laki yang dimiliki oleh beberapa orang yang bersyirik, dan mereka berselisih. Setiap orang ini satu budak yang bersyirik di dalamnya. Orang-orang ini bersyirik. Kira-kira satu orang ini bagaimana bentuknya? Mungkin dia adalah orang yang paling bingung sedunia. Kehidupannya penuh dengan kesusahan. Itu perumpamaan kesyirikan.
Dan perumpamaan seorang budak yang hanya milik penuh seorang saja yang memilikinya. Apakah sama antara dua hal? Jawabannya tidak sama. Karena itu, Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah terhadap nikmat tauhid ini. Iya, segala puji hanya untuk Allah.
Tapi banyak di antara mereka yang tidak mengetahuinya. Jadi, ini perumpamaan indah sekali. Bagaimana perumpamaan tauhid itu dan perumpamaan kesyirikan. Syirik itu seperti seorang budak pemiliknya banyak, dan pemilik-pemilik ini di dalamnya mereka berselisih, tidak bersepakat. Banyak kesusahan pada budak ini. Ini maunya ini, ini maunya itu. Tidak bersepakat. Beda dengan seorang budak yang menjadi milik satu orang saja. Dia menjadi tenang sekali. Walaupun dia diperintah sesuatu, nikmat dia kerjakan perintah tersebut. Jadi ini Allah buat perumpamaan. Apakah sama dua hal ini? Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah. Jelasnya kebenaran dari kebatilan. Jelasnya indahnya tauhid dari kebinasaan dari kesyirikan. Kita puji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tapi banyak orang yang tidak mengetahuinya.
7. Al-Qabul (Penerimaan) Syarat ketujuh dari syarat La ilaha illallah adalah Al-Qabul, yaitu menerima kalimat La ilaha illallah. Lawan dari menerima adalah menolak. Menerimanya dengan segala bentuk penerimaan, tidak ada penolakan sama sekali. Tidak ada penolakan.
Karena itu, orang kafir Mekah itu disifatkan bahwa mereka ini, jika dikatakan kepada mereka La ilaha illallah, mereka bersombong dan tidak mau menerimanya. Beda dengan seorang muslim, dia menerima. Tidak ada penolakan sama sekali. Ridha terhadap kalimat La ilaha illallah.
8. Al-Kufr bi Masyarikillah (Kafir terhadap segala yang diibadahi selain Allah) Syarat kedelapan, yaitu engkau kafir terhadap segala hal yang diibadahi selain daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah kandungan dari ayat:
Maka barangsiapa yang kafir kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang dengan tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(QS. Al-Baqarah: 256)
Itulah delapan syarat dari La ilaha illallah.
Wallahu Ta’ala ‘Alam
Referensi:
Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah
Landasan Kedua: Mengenal Agama Islam dengan Dalil-Dalil
Landasan Kedua: Mengenal Agama Islam dengan Dalil-Dalil
Setelah itu, penulis rahimahullah ta’ala berpindah kepada landasan yang kedua. Kata beliau rahimahullah ta’ala: Landasan kedua adalah mengenal agama Islam dengan dalil-dalil. Mengenal agama Islam dengan dalil-dalil. Beliau terangkan apa itu Islam: Wa huwa Al-istislamu lillahi Bittauhidi Wal-inqiyadu lahu Bittaa Wal-bara’atu Minasyirki wa ahlihi. Islam itu adalah Al-Istislamu lillahi (berserah diri kepada Allah), Bittauhid (dengan mentauhidkannya), Wal-Inqiyadu lahu bittaa (dan tunduk kepadanya dengan ketaatan), Wal-Bara’at minasyirki wa ahlihi (serta berlepas diri dari perbuatan syirik dan pelakunya).
Islam itu mempunyai tiga tingkatan: Al-Islamu wal-Iman wal-Ihsan (Islam, Iman, dan Ihsan). Dan setiap tingkatan mempunyai rukun-rukun. Ini dari ucapan penulis rahimahullah ta’ala. Kita poinkan tiga pembahasan. Ada tiga masail:
1. Ta’rifuddin (Definisi Agama)
Kata din dalam istilah syari’i digunakan untuk dua ma’na (makna). Makna yang pertama adalah makna umum. Ad-din artinya ma’an zalahu allahu alal anbiya ditahkiki ibadati. Ad-din artinya apa yang Allah turunkan terhadap para nabi dalam merealisasikan ibadah kepada Allah. Definisi umumnya, ad-din adalah agama yang dibawa oleh para nabi dan para rasul. Sebab seluruh nabi dan rasul agamanya sama, agamanya adalah Islam.
Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Al-Anbiya’u Ikhwatun li’allat. Para nabi saudara-saudara seibu. Dan dikatakan dinuhum wahid, agama mereka adalah satu. Jadi ini agama dengan makna umum.
Yang kedua, Ad-Din ada ma’na yang kedua. Ad-Din bermakna At-Tauhid.
2. Ta’riful Islam (Definisi Islam)
Islam dalam definisi syari’ahnya juga punya dua makna. Ada ma’na umum dan ada ma’na khusus. Di atas makna umumnya, apa yang diterangkan oleh penulis disini? Wa huwa al-istislamu lillahi bitawheed (berserah diri kepada Allah dengan tawheed), Wal-inqiyadu lahu bithawah (dan terikat, tunduk kepada Allah dengan At-ta’a, ketaatan), Wal baratu minasyirki wa ahlihi (serta berlepas diri dari perbuatan kesyirikan dan berlepas diri dari pelaku kesyirikan).
Jadi ada empat hal di dalam Islam dengan makna yang umum ini. Ada empat perkara:
Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkannya.
Terikat ketaatan.
Berlepas diri dari kesyirikan.
Berlepas diri dari pelaku kesyirikan.
Islam dimakna yang kedua bermakna khusus. Bermakna khusus dan ini ada dua penggunaannya. Penggunaan yang pertama, Islam bermakna agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Kemudian yang kedua, bermakna amalan-amalan yang dhahir disertai dengan amalan batin yang membenarkan amalan dhahir tersebut. Ini ma’na yang kedua akan datang nanti. Dan ini yang disebutkan oleh penulis disini. Ada tiga tingkatan: Islam, iman, dan ihsan. Islam yang di tiga tingkatan ini, itu Islam dengan makna khusus. Karena Islam dengan makna khusus maksudnya lima rukun Islam. Itu amalan yang dhahir (zahir). Lima rukun Islam: Syahadat la ilaha illallah Muhammad Rasulullah, menegakkan solat, mengeluarkan zakat, haji bagi siapa yang mampu, dan berpuasa di bulan Ramadhan.
Tapi amalan zahir ini disertai dengan amalan batin yang membenarkan dhahir-nya (zahirnya). Disertai dengan amalan batin yang membenarkan dhahir-nya. Sama dengan iman dengan makna yang khusus. Iman itu kebalikannya adalah amalan batin disertai dengan dhahir yang membenarkan batinnya. Ini di penyebutan makna khususnya.
Islam Ada dua makna. Ada makna umum dan ada makna khusus. Ma’na umum yang disebut oleh penulis di dalam kitab ini. Ma’na khusus? Ada berapa penggunaan? Ada dua. Yang pertama, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Yang kedua, amalan-amalan yang dhahir atau rukun Islam yang lima, disertai dengan amalan batin yang membenarkan amalan dhahir tersebut.
Kalau kita paham ini, maka insya Allah akan mudah nanti memahami seluk-beluk Islam. Apa itu hakikatnya dan bagaimana Islam tersebut.
Pentingnya Mengenal Agama dengan Dalil
Kata penulis: Wahuwa al-istislamu lillahi bit-tawhid. Islam itu adalah al-istislam (berserah diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bit-tawhid.
Jadi Landasan Kedua ini mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya. Ini sudah kita terangkan di awal pembahasan dan di muqaddimah juga bahwa mengenal agama itu harus dengan dalil-dalil. Karena orang yang ikut-ikutan itu tidak bermanfaat baginya, tidak bermanfaat. Karena itu jawaban orang yang di alam kubur itu, dalam hadits Asma’ binti Abi Bakr riwayat Bukhari Muslim, semakna dengannya hadits Barak bin Azib riwayat Imam Ahmad. Ketika orang ini ditanya pertanyaan malaikat di alam kubur. Dia menjawab apa? Ha ha la adiri. Semi’tunna syai’an fakulituhu. Dia berkata, “Ha ha, saya tidak tahu. Saya hanya mendengar manusia berucap sesuatu, maka saya juga ikut-ikut mengucapkannya.” Ikut-ikutan ini tidak bermanfaat.
Beragama itu dengan dalil. Akan tetapi bukan artinya beragama itu dengan dalil diwajibkan setiap orang itu menghafal dalilnya. Menghafal itu kadar tambahan. Tapi yang penting, dalilnya pernah sampai kepadanya, pernah dia pahami. Kalau itu sudah sampai dan dia pahami, maka itu sudah cukup sebagai argumen hujjah terhadapnya. Dan pemahaman itu manusia bertingkat-tingkat di dalam pemahaman juga.
Kalau misalnya dia adalah orang ajam (non-Arab), dikatakan padanya telah sampai dalil, dia pahami. Apabila dalil itu dia mengerti, jadi ada yang terjemahkan padanya dalil tersebut. Ada pun orang-orang Arab yang mereka ini memahami bahasa Arab, maka sampainya Al-Quran itu telah cukup di dalam kepahaman terhadap mereka. Karena dikatakan supaya saya memperingatkan dengan Al-Quran ini. Dan siapa yang sampai Al-Quran itu kepadanya. Adapun menghafal itu kadar tambahan. Menghafal karena itu harus selalu ditanamkan di dalam diri tentang wajibnya memahami agama dengan dalil-dalil.
Sekarang ini subhanallah, banyak orang yang seakan-akan agama itu hanya ikut-ikutan. Siapa yang dia idola-kan, siapa yang dia tokoh-kan, maka pada idola dan tokohnya itulah seluruh pemahaman agamanya. Tidak melihat kepada dalilnya, Ini jalan yang keliru. Dan jalan yang sepertinya hanya berbuah penyesalan pada hari kiamat.
Karena itu dalam Al-Quran di surah Al-Furqan, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan penyesalan orang yang cuma ikut-ikutan kepada tokohnya. Hari dimana orang yang zalim menggigit kedua tangannya. Kita di dunia ini, kalau kita lihat ada orang yang sangat sedih, yang kena musibah karena kadang hampir hilang kesadarannya, biasanya diketemukan dia gigit jarinya, ujung kukunya satu atau dua. Ini penyesalan. Ini pada hari kiamat bukan jari yang dia gigit, dua tangannya dia gigit ke mulutnya, menyesal dia apa yang dia katakan? Ya laytanit takhatu ma’ar rasulisabila. Wahai, andai kata saya dulu telah menjadikan sebuah jalan yang saya ikuti bersama ar-rasul. Baru dia menyesal. Kenapa dulu ketika di dunia dia tidak mengikuti jalan bersama Rasul? Wahai betapa menyedihkannya saya. Kenapa saya menjadikan si Fulan sebagai orang yang saya cintai? Si Fulan ini tokoh yang dia ikuti-ikuti, dia jadikan sebagai khalil, dia percayai, dia cintai, itu yang dia ikuti. Jalannya Rasul malah dia tidak ikuti.
Apa yang terjadi pada si Fulan ini? Dia telah menyesatkanku dari jalan Allah, dari ad-dikir. Setelah datang dikir itu kepadaku. Dan dalam manusia itu selalu berkhianat, selalu menjadi sebab seorang itu jauh dari taufiq, jauh dari kebaikan. Ini antara cara syaitan menyesatkan manusia. Karena itu seorang dai dia tidak tertipu dengan banyaknya orang yang mendengarkan apa yang dia ucapkan atau banyaknya orang yang kelihatannya mendukungnya. Tapi yang menjadi ukuran untuknya, orang-orang yang mendengarkannya, yang dia da’wahi, ini kembali kepada Al-Quran dan Sunnah. Bukan mengikut kepada dirinya.
Seorang da’i bukan berda’wah kepada dirinya. Dia berda’wah ke jalan Allah. Dia hanya menerangkan jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, menjelaskannya kepada manusia. Maka ini dari hal yang penting untuk selalu diingat: Ma’rifatu dinil islami bil adillah. Mengenal agama Islam dengan dalil dari Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Apabila dikenal dasar ini, insya Allah akan mudah menyelesaikan berbagai hal yang terjadi di tengah umat ini. Ada sebagian hal yang diributkan di tengah umat, itu dasarnya karena sebagian orang tidak kembali kepada Al-Quran dan Sunnah, tidak kembali kepada dalil. Senangnya kembali kepada tokoh-tokohnya, senangnya kembali kepada hawa nafsunya, senangnya kembali kepada kebiasaan yang berjalan di tengah manusia. Andai kata mereka kembali kepada Allah dan Rasulnya, selesai masalah.
“Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (QS. Asy-Syura: 10)
Kalau kalian berselisih pada sesuatu, kembalikan kepada Allah dan Rasulnya. Kembalikan kepada Allah artinya dikembalikan kepada Al-Quran. Kembalikan kepada Rasul artinya dikembalikan kepada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Apa yang kalian berselisih dalamnya, hukumnya kembali kepada Allah. Maka ini akan indah dari hidup itu.
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya”(QS. Al-A’raf: 3)
Kalau seorang berpegang dengan dalil, ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dan Rabb kalian. Ini mengikuti apa yang diturunkan, yang diturunkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jadi kalau seorang hamba berjalan di atas jalan ini, maka dia berpegang di atas prinsip, di atas agama: ikuti apa yang diturunkan kepada kalian dan Rabb kalian, dan jangan kalian ikuti selain daripada Allah. Dari wali-wali, ini wali-wali ini awliya, jamaah dari wali, orang yang dia cintai, orang yang dia hormati, orang yang dia ikuti, pemimpin-pemimpin, tokoh-tokoh yang dibahasakan awliya.
Subhanallah, memang banyak orang terfitnah dengan manusia. Ada yang terfitnah dengan penampilan orang tersebut, dari kelembutan, kesederhanaan gerak-geriknya. Ada yang terfitnah dengan retorika, tutur kata, ucapan, lisan. Ada yang terfitnah dengan banyaknya orang yang bersamanya, pengikutnya. Ada yang terfitnah dengan harta, dengan dunia, sehingga dia keluar dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Kemudian, Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)
Di ayat yang lain, Allah berfirman: Kemudian kami jadikan Nabi Muhammad di atas syariat dari sebuah perkara. Ikuti syariat tersebut dan jangan kalian mengikuti hawa nafsu-hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.
Ini dari beberapa dalil yang menunjukkan tentang kewajiban beragama dengan dalil. Bukan cuma ikut-ikutan. Apalagi menjadikan selain daripada Allah sebagai panutan-panutan yang diikuti oleh seorang muslim dan muslimah. Adalah dalil Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ini cara beragama, ini kaedah penting. Kaedah ini yang menyelamatkan dari pemikiran-pemikiran menyimpang. Menyelamatkan dari pemikiran-pemikiran menyimpang. Sebab orang yang datang dengan perkara baru, orang yang berbuat bid’ah, kalau ditanya apa dalilnya?. Maka ini akan membuat mereka apa? Kalang kabut disitu. Tidak bisa membawakan dalil. Kalau ada ayat dia sebut, atau ada hadits dia sampaikan, tidak ada urusannya, tidak ada kaitannya dengan bid’ah yang dia kerjakan.
Islam disini ditafsirkan oleh penulis. Dia adalah berislam Lillahi (hanya untuk Allah) dengan mentauhidkannya. Ini asalnya, dasarnya pada Islam adalah ini. Terikat dengan ketaatan. Dan berlepas diri dari kesyirikan serta berlepas diri dari pelaku kesyirikan.
3. Tingkatan-tingkatan agama
Pembahasan yang ketiga: Maratibuddin (tingkatan-tingkatan agama). Penulis menerangkan di sini: Wa huwa thalathu maratib. Hua maksudnya Islam itu ada tiga tingkatan.
Kalau digambar seperti lingkaran, lingkaran besarnya namanya Islam. Di dalam lingkaran Islam ini ada tiga lingkaran yang lain di dalamnya. Ada lingkaran lagi kecil di dalamnya, namanya lingkaran Islam juga. Ini adalah Islam dengan makna Makna khusus. Kalau lingkaran yang pertama tadi, Islam dengan Umum.
Di dalam lingkaran Islam yang di dalam, lingkaran Islam yang kedua yang di dalam, ada lagi lingkaran iman. Di dalam lingkaran iman ada lagi lingkaran namanya lingkaran Ihsan. Sebab orang yang sudah masuk ke lingkaran Ihsan, dia artinya sudah mencakup lingkaran iman dan lingkaran Islam. Orang yang berada di lingkaran iman, belum tentu dia berada di lingkaran Ihsan. Tapi sudah pasti dia masuk dalam lingkaran Islam. Orang yang berada di lingkaran Islam ini, belum tentu dia masuk di dalam lingkaran iman dan lingkaran Ihsan. Jadi seperti itu pendekatannya, hakikat tentang tingkatan-tingkatan agama ini.
Islam dalam maknanya yang khusus, bahwa Islam itu rukun Islam yang lima atau amalan yang zahir, disertai dengan amalan hati yang membenarkan amalan zahir tersebut. Yaitu Islam. Kalau iman, definisinya kebalikannya. Iman itu adalah amalan yang batin, yaitu rukun iman yang enam. Jadi amalan yang batin, tapi disertai dengan zahir yang membenarkan keimanannya, membenarkan batinnya.
Ihsan ini tingkat itqan, tingkat kesempurnaan. Dia lengkap dan sempurna pada seluruh sendi-sendi agama. Jadi kelihatan perbedaannya: kalau Islam itu terkait dengan amalan yang zahir. Kalau iman terkait dengan amalan yang batin. Kalau ihsan terkait dengan Itqan. Bagaimana seorang itu sempurna, lengkap dan mapan di atas tingkatan agama itu.
Islam itu amalan yang zahir disertai dengan amalan batin yang membenarkan Zahirnya. Kalau zahir saya diterima, itu tidak cukup ya. Karena kaum munafikin bersyahadat: Asyadu an la ilah illallah, Asyadu anna muhammad rasulullah. Mereka solat juga, hadir ke masjid solat. Walaupun solatnya itu malas, riya’. Bersedekah juga mereka, keluarkan zakat. Tapi kikir, sering mengungkit-ngungkit. Kalau dia bersedekah ngomel, itu kaum munafikin. Dia kadang juga bersedekah, dia celah sedekahnya orang. Puasa, malas juga. Demikian pula haji. Jadi mereka kerjakan, kaum munafikin mengerjakan.
Jadi amalan dohirnya menjadi benar dengan Keimanan dalam hati. Harus ada dari amalan hati yang membenarkan dohir ini. Kalau dalam hatinya disembunyikan kekafiran, maka yang zahirnya tidak bermanfaat.
Sama dengan keimanan. Kalau dia katakan dalam hatinya dia beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, beriman kepada hari akhirat, beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk. Tetapi dia sendiri tidak ada amalan zahirnya yang menunjukkan benarnya apa yang dalam hati. Tidak pernah dia sholat. Tidak terdengar dia bersyahadat. Maka ini menunjukkan tidak benarnya Amalan batinnya. Amalan batin itu benar kalau terlihat pengaruhnya di amalan lahirnya. Harus ada bukti dari amalan lahir yang membenarkan batinnya.
Sangat terikat antara Islam dan iman. Kalau ihsan, ihsan adalah kadar itqan pada Islam dan iman. Begitu dia mutqin, sempurna pada Islam dan imannya, itulah disebut derajat ihsan. Karena itu derajat yang paling tinggi dari tiga tingkatan ini, adalah tingkatan ihsan. Karena itu orang yang sudah sampai ke tingkat ihsan, masuk dalam lingkaran ihsan, berarti dia sudah ada di dalam lingkaran iman dan lingkaran Islam. Sebagaimana orang yang berada di tingkatan iman, ada di lingkaran iman, ini dia sudah ada di dalam lingkaran Islam. Tapi belum tentu dia masuk di dalam lingkaran Ihsan. Sebab Ihsan ini terkait dengan terajat itqan.
Karena itu ditafsirkan pada ayat keseratus dari surat Tawbah tentang para sahabat:
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,”(QS. At-Tawbah: 100)
Dan siapa yang mengikuti mereka dengan ihsan. Ihsan disini diartikan oleh para ulama ahli tafsir dengan itqan. Itqan adalah kalau dia misalnya membuat sesuatu, ada pekerjaan, sesuatu dia kerjakan, sesuatu itu secara lengkap sempurna sehingga tidak ada kritikan lagi pada sesuatu itu, tidak ada hal yang dicari lagi. Jangan sudah dia bekerja dikatakan “Fulan ini belum selesai, kenapa kamu belum buat begini?”. Enggak. Kalau sudah orang yang mengerjakan sesuatu dengan ihsan, dengan itqan, artinya tidak ada lagi yang mengeritik dalam kerjaan itu. Semuanya sudah menerima, sudah puas.
Kalau diibaratkan mengikuti jalannya para sahabat. Apabila para sahabat berjalan meninggalkan jejak-jejak kaki. Maka mengikuti mereka dengan ihsan, artinya dia mengikuti jejak yang sama. Tidak keluar darinya. Tidak bikin jejak baru. Ada orang yang menginjak jejak kaki, jejaknya jadi berubah. Ini tidak. Ihsan itu diikuti jejak itu persis. Sama. Tidak merubahnya. Dia hanya menapaki jejak yang sama.
Baik, jadi disini penulis rahimahullah ta’ala sudah menerangkannya tentang apa itu Islam dan beliau sudah terangkan tentang tingkat-tingkat Islam.
Wallahu Ta’ala ‘Alam
Referensi:
Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah
Yang terakhir dari bentuk ibadah yang disebut oleh penulis adalah Nadhr. Adalah Nadar.
Nadar adalah seorang mukallaf mewajibkan sesuatu atas dirinya. Sesuatu ini asalnya dalam syariat bukan wajib, terhadap asalnya tidak wajib. Misalnya dia bernadzar untuk i’tikaf di masjid satu hari. Asal i’tikaf tidak diwajibkan baginya, tapi dia wajibkan i’tikaf terhadap dirinya. Ini disebut Nadar. Atau dia nadzar untuk berpuasa tiga hari. Asalnya nadzar, kewajiban dia berpuasa dikatakan wajib puasa tiga hari. Itu nadzar dari asal syariat. Tapi karena dia wajibkan puasa atas dirinya, maka ini disebut sebagai Nadar.
Jadi Nadar ini ingin diterangkan oleh penulis di sini bahwa Nadar itu adalah ibadah. Kalau Nadar adalah ibadah, ibadah tidak boleh diserahkan kepada selain Allah. Apa dalilnya Nadar adalah ibadah?
“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. Al-Insan: 7)
Mereka menunaikan Nazar, Allah memuji mereka yang menunaikan Nazar. Sehingga menunjukan Nazar adalah ibadah. Karena ibadah maka harus ikhlas untuk Allah, memalingkan dari Nya maka adalah Syirik Akbar. Mereka takut suatu hari, maksudnya di hari kiamat yang siksa merata di mana-mana.
Bentuk-Bentuk Nadzar
Kalau kita berbicara tentang Nadar, itu apa yang disebut ibadah? Itu Nadar yang disebut ibadah hanya seseorang maksud ketika dia menadarkan. Ini ada yang dibahas oleh para ulama, apakah di situ dikatakan makruh atau dianjurkan. Jadi kalau dia nadzar tanpa muqobil, ada nadzar tanpa muqobil (balasan) dan dengan muqobil. Jadi ada dua, ada nadarnya tanpa dia minta balasan dan ada nadzar karena diharapkan suatu balasan.
Tanpa balasan, misalnya dia sekarang duduk, “Saya ingin mengharuskan diri puasa tiga hari”. Dia bernadzar, “Lillahi, puasa tiga hari”. Ini nadzar tidak bagus, ibadah. Tapi kalau dia minta, misalnya, “Apabila saya kembali perjalanan selamat, maka saya nadzar tiga hari”. “Apabila anak saya lulus ujian, maka saya akan puasa Senin-Kamis selama satu bulan”. Misalnya, maka ini nadzar ada sebabnya, dia meminta. Inilah yang dikatakan oleh Nabi, itu yang dikeluarkan dari kebakhilan. Itu yang dikatakan oleh Nabi, itu tidak mendatangkan kebaikan, tidak mendatangkan kebaikan. Dan sebagian ulama dia mengharamkan nadzar yang seperti ini dari sisi hukumnya, itu diharamkan.
Tapi kalau dia sudah terlanjur nadzar, artinya dia sudah mengajibkan dirinya, sisa apa yang dia nadarkan? Kalau nadarnya taat, wajib dia lakukan. Nadarnya kalau nadarnya maksiat, bahkan tidak boleh dia kerjakan.
Kesimpulan Pembahasan Mengenal Allah
Dan dengan ini kita selesai pembahasan yang pertama tentang Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan dari kesimpulan pembahasan Mengenal Allah itu, sebagaimana yang telah diuraikan oleh penulis, pembahasan pembahasannya jelas. Dan manusia di dalam hal ini bertingkat sesuai dengan kadar upayanya di dalam berilmu dan mengamalkan. Karena itulah yang harusnya selalu dipegang oleh para penuntut ilmu. Dia selalu memperdalam bagaimana dia mengenal Allah. Semakin dalam dia mengenal-Nya, maka itu akan semakin kuat kebaikannya dan harapan dia diselamatkan pada hal-hal yang mengkhawatirkan. Itu di sekaratul maut, di alam kubur, dan menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu Ta’ala a’lam.
Referensi:
Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah
Kemudian yang ketiga belas dari ibadah adalah Al-Dzabh. Menyembelih ini dari ketaatan pada Allah, ini dari ibadah terkait dengan harta. Karena ibadah itu ada yang terkait dengan badan, ada yang terkait dengan harta. Ibadah yang terkait dengan harta ini namanya Ad-Dzabh.
Menyembelih artinya mengeluarkan ruh dari hewan dengan cara menumpahkan darahnya. Dengan bentuk yang telah dimaklumi, yang telah ditentukan di dalam syariat.
Menyembelih ini, disebutkan oleh penulis dia adalah ibadah. Apa dalilnya bahwa dia adalah ibadah? disebutkan ayat dan hadits. Pada ayat dan hadits ini keduanya ada menyembelih. Ibadah boleh dipalingkan kepada selain Allah. Ada dua dalil, ayat dan hadits.
Dalil menyembelih adalah firman Allah Ta’ala, ini ayat:
“Katakanlah, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al-Anam: 162-163)
Maksudnya, katakanlah Nabi Muhammad. “Inna solati”, sungguh ibadahku dengan solat. “Wa nusuki”, di sini artinya sembelihanku. Ada yang mengertikan nusuk dengan ibadah, tapi mayoritas ahli tafsir menafsirkan nusuk dengan sembelihan. Sungguh sembelihanku! Apa yang saya lakukan dalam hidupku dan apa yang saya persiapkan untuk kematianku, semuanya hanya milik Allah, Rabbil ‘Alamin, Rabb semesta alam. Yang kuibadahi, “La syarika lahu”, tidak ada syarikat bagi-Nya dalam ibadah, sebagaimana tidak ada syarikat bagi-Nya dalam kekuasaan dan pengaturan. “Wa bidha”, dengan ikhlas dalam ibadah ini, dengan tauhid ini. “Umirtu”, saya diperintah. “Wa ana awalul muslimin”, dan saya dari umat ini orang yang paling pertama berserah diri.
Jadi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang paling pertama melaksanakannya. Beliau adalah orang yang paling pertama berislam karena beliau membawa syariat ini. Karena itu, siapa yang menyandang dari syariat, maka harusnya dia adalah orang yang paling pertama untuk melaksanakannya. Maka ini jelas bahwa sembelihan itu, nusuk, adalah ibadah. Harus dilakukan ikhlas karena Allah.
Ada pun dari hadits, kata penulis, dan juga dalil dari sunnah: “Allah melaknat siapa yang menyembelih untuk selain Allah“. Ini hadits Al-Bin Nabi Talib, riwayat Muslim. Allah melaknat siapa yang membeli untuk selain Allah. Melakat itu adalah At-Tardu wal-Ibaat min Rahmat Allah, mengusir dan menjauhkan dari rahmat Allah. Itu yang disebut dengan melaknat. Jadi Allah melaknat siapa yang menyembelih, untuk selain Allah.
Bentuk-Bentuk Menyembelih
Menyembelih itu, kata Syekh Ibn Utsaimin Rahimahullah Ta’ala, itu ada beberapa bentuk.
1. Menyembelih yang Bersifat Ibadah
Yang pertama, menyembelih yang disebut ibadah. Dimana dia menyembelih dengan mengagungkan siapa yang dia sembelih untuknya, merendah diri kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya. Ini menyembelian seperti ini hanya untuk Allah. Seperti misalnya seorang menyembelih kurbannya, dia sembelih untuk Allah, membesarkan Allah, dia tunduk kepada-Nya, takarrub, mendekatkan diri. Ini ibadah. Ini tidak boleh diserahkan kepada selain Allah. Menyerahkannya kepada selain Allah ini adalah Syirik Akbar. Walaupun dia menyebut nama Allah, dia baca Bismillah misalnya, tapi ini dia peruntukan untuk kuburan, untuk orang yang dikubur, maka itu masuk di dalam Syirik Akbar.
2. Menyembelih untuk Memuliakan Tamu atau Acara
Kemudian menyembelih yang kedua, dia menyembelih untuk memuliakan tamu, untuk acara nikah. Ini hal-hal yang seperti ini disyariatkan, tergantung bagaimana bentuknya. Kalau acara nikah, kadang wajib. Acara nikah, wali itu hukum wajib kalau dia mampu, misalnya, maka bisa menjadi wajib. Atau untuk acara akikah, misalnya dia menyembelih untuk anaknya, bisa menjadi wajib. Atau memuliakan tamu, ada dia sembelih untuk memuliakan tamu.
3. Menyembelih untuk Dimakan atau Berdagang
Kemudian yang ketiga, seorang menyembelih dalam bentuk hanya untuk dimakan, saya bersenang-senang dengan, atau dia berdagang dengan, dia jual belikan. Ini asalnya masuk ke dalam mubahat, perkara yang mubah, perkara yang dibolehkan. Karena menyembelih dalam bentuk ibadah itu harus dijaga, sembelih itu hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Referensi:
Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah
Al-Istighatsah itu adalah Tolabul Ghaits. Tolabul Ghaits adalah meminta supaya dihindarkan dari kesusahan, diselamatkan dari bahaya.
Perbedaan antara Doa dan Istighatsah: kalau istighatsah itu dia berlindung dari hal yang sifatnya makruf, sesuatu yang sudah membahayakannya. Kalau doa itu dia meminta umum. Ya, kalau doa baik. Itu perbedaan Doa dengan Istighatsah.
Berikutnya, apa perbedaan antara Istighatsah dan Istiadah? kalau istiadah itu dia memohon perlindungan supaya dijaga dari hal yang jelek, dibentengi, ditamengi supaya terpelihara tidak didekati oleh kejelekan. Kalau istighatsah, dia sudah kena musibah, kena bahaya, dia minta kepada Allah supaya dibantu menghilangkan bahaya ini. Jadi istighatsah itu permohonan supaya menghilangkan bahaya yang telah menimpanya.
Jadi istighatsah itu cocok dibahasakan dengan memohon pertolongan. Sebab pertolongan itu sifatnya diberikan pada orang yang sudah kena apa, bahaya. Kalau orang yang belum kena bahaya, itu disebut perlindungan.
Istighatsah itu mengandung dua hal. Yang pertama, kesempurnaan kefakiran kepada Allah. Dia betul-betul fakir kepada Allah. Dan yang kedua, dia meyakini bahwa Allah mencukupinya. Ini dua kandungan dari apa Al-Istighatsah. Dia betul-betul sempurna kefakirannya kepada Allah, dan yang kedua dia meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mencukupinya.
Dalil Al-Istighatsah
Kata penulis Rahimahullah, “Wa dalilul istighatsah kauluhu ta’ala: Istaghitsuna Rabbakum Fasta’jaba lakum”. Dalil istighatsah adalah firman Allah Ta’ala:
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَٱسْتَجَابَ لَكُمْ
“Ingatlah ketika kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian, lalu diperkenankan-Nya kepada kalian.” (QS. An-Anfal: 9)
Ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika kalian, wahai umat Islam, telah berjumpa dengan musuh kalian. Maka waktu itu, “Tastagitsuna Rabbakum”, kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian. Ini kejadian di Surah Al-Anfal, sudah terjadi, bertemu dua pasukan. Jadi bahayanya itu sudah ada. Karena itu bahasanya bahasa Istighatsah.
Bahasa-bahasa Istighatsah umum, bikin acara Istighatsah, kumpul-kumpul di mana begitu. Dan kadang dia tidak paham apa istighatsah itu. Mungkin kadang dia yang dia minta, mungkin hal yang sudah menimpa umat, itu masuk Istighatsah. Tapi kadang ada hal-hal yang dikhawatirkan, ditakutkan, itu bukan istighatsah. Di situ namanya istiadah.
Tapi yang menjadi rumit ini, bikin acara yang seperti itu pada hal-hal yang ada ritual khusus, perkara yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Kalau seorang mengajak manusia untuk berdoa, kemudian mendoakan kebaikan untuk negeri, itu adalah hal yang baik, perkara yang bagus. Tapi harusnya hal yang sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jangan masukkan di dalamnya ritual-ritual yang tidak ada dalil.
“Istaghitsuna Rabbakum”, ketika kalian meminta pertolongan kepada Rabb kalian, “Fastajabalakum”, lalu Allah mengabulkan. Ini diperbincangkan, kejadian ini ketika Rasulullah meminta pertolongan maka dikabulkan. Dikabulkan, diberi dari malaikat, diturunkan kepada kaum mukminin sehingga mereka menang. Karena itu di kelanjutan ayat:
“Sungguh, Aku akan menolong kalian dengan seribu malaikat yang mengikuti kalian.”
Padahal jumlah waktu itu kaum musyrikin lebih dari seribu, dan umat Islam cuma berapa? 300 lebih, mungkin 313, sekitar itu. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memohon kepada Allah dan para sahabat memohon. Itulah Istighatsah namanya. Kemudian dibantulah, maka turun para malaikat. Dan disebutkan dalam riwayat di Perang Badar itu ada malaikat-malaikat yang turun berwujud manusia, berperang ikut di dalam peperangan.
Baik, ini malaikat. Kalau turun, benar-benar apa, turun kemenangan. Itu kalau malaikat turun, jangan seperti cerita-cerita di Suriah, turun malaikat. Ini cerita-cerita para pemberontak, orang-orang yang jahil. Kemudian untuk mendukung patwa-patwa menyesatkan supaya manusia memberontak kepada pemerintah. Itu katanya ada yang melihat apa namanya, orang pakaian putih, tidak tau dari mana. Orang pakaian putih boleh dari mana? Pakaian putih? Kalau malaikat turun, malaikat turun pasti mati semua. Itu orang kan begitu. Kalau malaikat benar turun, ini tetap begitu, begitu. Saya ini Ashabul Fitnah, seperti itu biasanya mencari alasan saja untuk pembenaran perbuatannya yang keji. Sudah terbunuh kaum Muslimin di mana-mana, dia masih menggambarkan bahwa diri mereka benar. Jelas, ada lebih mengerikan lagi. Kalau penduduk Suriah sembilan juta orang, terus satu juta mati untuk kebaikan, delapan juta maka satu juta ini gak apa-apa mati. Patwa, patwa konyol seperti tidak ada rasa takut kepada Allah, tidak ada harganya nyawa kalau Muslimin. Padahal satu jiwa yang melayang itu seakan akan dia membunuh seluruh, seluruh manusia. Tapi sebagian orang tidak ada rasa takut.
Jadi dari dalil ini tampak bahwa Istighatsah itu adalah ibadah karena Allah mencintainya, dikabulkan permohonannya. Berarti dia adalah ibadah. Hanya diberikan kepada Allah. Dan kaidahnya, kalau Istighatsah adalah ibadah, harus ikhlas hanya untuk Allah. Memalingkannya kepada selain Allah, hukumnya Syirik Akbar.
Bentuk-Bentuk Al-Istighatsah
Istighatsah itu ada beberapa bentuk. Disebutkan Al-Syeikh Ibn Utsaimin di sini Rahimahullah ada empat bentuk Istighatsah.
1. Istighatsah kepada Allah
Yang pertama dijelaskan oleh penulis di sini, Istighatsah yang bersifat ibadah.
2. Istighatsah kepada Orang Mati atau Orang Hidup yang Tidak Hadir dan Tidak Mampu
Istighatsah yang kedua, Istighatsah kepada orang-orang mati atau kepada orang-orang yang hidup tapi tidak hadir di situ, tidak mampu. Maka ini dari Syirik Akbar.
3. Istighatsah kepada Orang Hidup yang Hadir dan Mampu
Kemudian yang ketiga adalah Istighatsah kepada orang-orang yang hidup, hadir, dan dia mampu. Untuk itu, Nabi Musa ‘Alaihissalam disebutkan dalam Al-Quran:
“Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya dan matilah musuhnya itu.” (QS. Al-Qasa: 15)
Kaum dari Nabi Musa ini beristighatsah kepada Nabi Musa agar supaya menyelamatkan dia dari musuhnya. Maka Nabi Musa pun meninju, ya, mengikut Fir’aun ini yang mengganggu Bani Israel tadi. Maka matilah orang-orang tersebut. Ini di kisahnya di Surah Al-Qasas. Jadi Istighatsah itu kalau dia terhadap makhluk hidup, mampu, ini hukumnya boleh. Ini tiga syarat, itu dibolehkan.
4. Istighatsah kepada Orang Hidup yang Tidak Mampu
Yang keempat, Istighatsah kepada orang yang hidup tapi tidak mampu. Tidak mampu, ini masuk ke dalam bentuk apa? Sia-sia. Nah, tapi kalau misalnya dia bilang, dia lihat orang lumpuh tadi, dia sudah mau tenggelam, dia sudah tenggelam, ada orang apa namanya, buta lewat, minta tolong. Ini orang buta mana bisa dia melihat, berenang?. Atau orang buta lewat, misalnya dia tidak punya tangan, kemudian minta tolong padahal dia sudah mau tenggelam. Di sini kalau dia hanya minta tolong, ini hal yang sia-sia karena dia tidak mampu untuk melakukannya. Tidak mampu. Kecuali kalau dia yakin ini si buta tapi dia orang salih, mungkin dia komat-kamit mulutnya sedikit, “Saya tiba selamat”. Begitu kan? Ini namanya keyakinan aneh yang tersembunyi. Ini bahaya. Seperti ini namanya keyakinan rahasia. Itu maksud di pembahasan kesyirikan.
Referensi:
Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah
“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) waktu subuh.” (QS. Al-Falaq: 1)
Selanjutnya, firman Allah Ta’ala:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan manusia.” (QS. An-Nas: 1)
Hakikat dan Kandungan Istiadah
Al-Istiadah secara bahasa berarti memohon perlindungan dari sesuatu yang tidak disenangi atau hal yang dikhawatirkan. Ketika seseorang melakukan Al-Istiadah kepada Allah, tiga hal utama yang menjadi inti dari makna tersebut.
Dia berlindung kepada Allah.
Dia melakukan ikhtisam, yaitu berpegang teguh kepada Allah.
Dia meyakini bahwa Allah akan mencukupinya dan melindunginya dari segala kejelekan.
Al-Istiadah ini termasuk ibadah yang sangat agung. Oleh karena itu, penulis membawakan dua ayat sebagai dalil Istiadah. Firman Allah Ta’ala dalam Surah Al-Falaq:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ
“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) waktu subuh.” (QS. Al-Falaq: 1)
Kata Al-Falaq ditafsirkan dengan dua penafsiran. Al-Falaq bisa bermakna subuh, dan Al-Falaq juga bisa bermakna tumbuhan yang dikeluarkan dari bijinya. Misalnya, biji keluar darinya, lalu tumbuhan itu dikatakan Falaq. Memang subuh dikatakan Falaq sebab tadinya kan gelap, kemudian dari kegelapan ini ditembus oleh terang subuh yang keluar. Itu disebut Falaq karena memang dia dari sesuatu yang keluar, ditembus. Itu disebut Falaq dalam bahasa Arab. Jadi, “Saya berlindung kepada Al-Falaq”.
Selanjutnya, firman Allah Ta’ala:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan manusia.” (QS. An-Nas: 1)
Ini mengandung tiga hal: dia berserah diri kepada Allah, menuju kepada-Nya, berpegang teguh terhadap-Nya, dan meyakini bahwa Allah yang mencukupinya dan melindunginya. Maka, ini adalah tiga hal di dalam Al-Istiadah.
Pembagian Al-Istiadah
Istiadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala oleh Syekh Ibn Utsaimin dibagi menjadi empat jenis.
1. Istiadah kepada Allah dengan Tiga Unsur Utama
Yang pertama, Al-Istiadah kepada Allah dengan tiga hal yang kita sebutkan tadi. Hukumnya adalah ibadah. Dan kalau dia ibadah, ibadah itu tidak boleh diserahkan kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Istiadah dengan Sifat-Sifat Allah
Yang kedua, Istiadah dengan sifat dari sifat-sifat Allah. Ini juga dibolehkan. Karena itu, ada beberapa doa seperti doa dua pagi dan petang:
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan.”
Ini berlindung dengan kalimat-kalimat, yaitu sifat Allah. Doa dua pagi dan petang juga:
وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ
“Dan aku berlindung dengan keagungan-Mu agar aku tidak dibunuh.”
Minta hati, “Saya berlindung dengan Keagungan-Mu”. Ya, ‘Adhamah. Demikian pula doa kalau orang sakit, ada sakit misalnya di badan. IDiperintah oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca, Bismillah tiga kali, kemudian dibaca tujuh kali:
“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari kejahatan apa yang aku rasakan dan aku khawatirkan.”
“Wa qudratihi”, berlindung dengan Kemampuan Allah. Dan doa di solat malam:
أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ
“Aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu.”
Berlindung dengan Sifat Allah, Istiadah dengan Sifat Allah, itu boleh saja, hal yang diperbolehkan.
3. Istiadah kepada Orang Mati atau Orang Hidup yang Tidak Hadir dan Tidak Mampu
Jenis yang ketiga dari Istiadah adalah Istiadah dengan orang-orang mati atau orang yang hidup tapi tidak hadir dan tidak mampu. Maka ini masuk ke dalam kesyirikan, masuk di dalam Syirik Akbar yang telah kita sebutkan. Karena itu, dicela orang-orang yang para jin, apa, para manusia yang berlindung dari jin. Dan sekelompok dari laki-laki manusia, mereka Istiadah kepada sekelompok laki-laki dari jin. Maka mereka bertambah rahaka, ya, bertambah kesewenang-wenangan.
4. Istiadah kepada Makhluk yang Mampu Melindungi
Yang keempat dari Istiadah adalah berlindung dari sesuatu yang makhluk itu mampu melakukannya. Terdiri berlindung pada tempat yang di situ dia bisa dapat perlindungan. Ini tidak dipermasalahkan kalau dia mampu. Karena itu dikatakan di dalam hadits ketika terjadi fitnah, siapa yang mendapatkan tempat berlindung, maka hendaknya dia berlindung pada tempat tersebut. Maka hal yang seperti ini tidak ada masalah sebab ini masuk di dalam hal yang memungkinkan, hal yang memungkinkan. Baik, jadi ini empat pembagian apa Istiadah.
Referensi:
Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah